LPSK Dorong Capaska Tangerang Selatan Laporkan Sebab Kematian Aurel

Pernyataan terkait dugaan kekerasan yang terjadi selama mengikuti diklat ramai menyeruak, terkait dari keterangan kedua orang tuanya.

LPSK Dorong Capaska Tangerang Selatan Laporkan Sebab Kematian Aurel
Warta Kota/Andika Panduwinata
Aurellia Quratu Aini seorang paskibraka Tangerang Selatan yang akrab disapa Aurel (jilbab hitam) semasa hidupnya bersama ibunya bernama Sri Wahyuni. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG SELATAN - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) angkat bicara terkait kasus meninggalnya Aurellia Qurratu Aini atau Aurel.

Seperti diberitakan TribunJakarta.com sebelumnya, Aurel merupakan calon Paskibraka (Capaska) Tangerang Selatan (Tangsel) yang meninggal di rumahnya pada masa pendidikan dan pelatihan (diklat) Paskibraka.

Pernyataan terkait dugaan kekerasan yang terjadi selama mengikuti diklat ramai menyeruak, terkait dari keterangan kedua orang tuanya.

Selain kepada para Capaska, teman Aurel semasa berlatih bersama, LPSK juga mendorong pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan.

Wakil Wali Kota Tangsel Dukung Aurellia Paskibraka yang Meninggal Mendadak Diusut Tuntas

Tujuannya agar kasus meninggalnya Aurel tidak menjadi rumor, melainkan jelas duduk perkaranya.

"Kemerin saya mengeluarkan rilis untuk minta kepolisian segera melakukan penyelidikan. Keperluannya agar tidak berkembang menjadi rumor hingga bisa diketahui apakah benar korban itu dikarenakan ada tindak kekerasan," ujar Ketua LPSK, Hasto Atmojo Suroyo saat dihubungi, Kamis (8/8/2019).

Hasto meminta para Capaska yang lain untuk tidak takut memberikan informasi kepada pihak kepolisian terkait penyebab meninggalnya Aurel.

"Kami imbau rekan-rekan korban yang memiliki informasi penting tentang penyebab kematian korban, untuk bekerja sama dan memberikan informasi kepada pihak kepolisian. Tidak perlu takut,” jelasnya.

Hasto menjelaskan, pelapor atau saksi yang memberikan keterangan pada penegak hukum guna kepentingan penyelidikan, berhak atas perlindungan, seperti diatur dalam Undang-Undang tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

“Jika memang ada potensi ancaman atau intimidasi terhadap para saksi maupun rekan-rekan korban atas apa yang terjadi di pelatihan, laporkan ke LPSK, termasuk bagi pihak keluarga. Kami siap berikan perlindungan,” jelasnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved