Suaminya Jadi Korban Dugaan Penganiayaan Oknum Penegak Hukum, Peberenti Gelar Aksi di Patung Kuda

Menurutnya, oknum penegak hukum tersebut melakukan intimidasi senjata laras panjang ke arah korban.

Suaminya Jadi Korban Dugaan Penganiayaan Oknum Penegak Hukum, Peberenti Gelar Aksi di Patung Kuda
Istimewa
Peberenti mengadu dan meminta keadilan. 

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Peberenti, istri korban dugaan penganiayaan oknum kepolisian kehutanan (polhut) berharap perhatian dan keadilan kepada Presiden Joko Widodo di Hari Kemerdekaan Indonesia, Sabtu (17/8/2019).  

Presiden diminta turun tangan memantau proses penegakan hukum suaminya, Basta Siahaan, petani sawit yang jadi korban dugaan penganiayaan dianiaya dan ditodong senjata api.

“Bapak Presiden Jokowi tolong beri kami keadilan. Tanpa tahu persoalan suami saya diperlakukan seperti binatang, diseret, dianiaya dan ditodong pistol,” kata Peberenti yang ditemui melakukan aksi unjuk rasa tunggal di Patung Kuda, tak jauh dari Istana Negara.

Peberenti menuturkan, pada 28 februari 2019 malam kediaman mereka di Kampung Sawah, Desa Mendis Jaya, Kecamatan BayuLencir, Musi Banyu Asin, Sumsel didatangi gerombolan orang.

Mereka menuding lahan berkebun milik korban berada pada areal hutan produksi.

Menurutnya, oknum penegak hukum tersebut melakukan intimidasi senjata laras panjang ke arah korban.

Dikatakan Peberenti, sudah 6 bulan suaminya menjalani proses hukum tanpa tahu kesalahan mereka.

Sementara itu, Andy Nababan, kuasa hukum korban menuturkan aksi yang dilakukan istri korban semata-mata meminta kepada Presiden Jokowi agar menaruh perhatian atas kasus ini.

Menurutnya, di tengah perayaan Hari Kemerdekan Indonesia ke 74, justru korban merasakan kemerdekaannya dirampas oleh oknum penegakan hukum yang tidak profesional.

Atas kasus tersebut, pihaknya kata Andy sudah melaporkan ke sejumlah lembaga negara terkait seperti Komisi Nasional Hak Azasi dan Manusia (Komnas HAM), Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, Ombudsman, Kadiv Propam Polri, dan Istana Negara satu lalu (Juli 2019) namun hingga kini belum mendapat respon yang signifikan.

Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved