Bekasi Gabung DKI, Sejarawan: Wali Kota Jangan Cuma Omongan
Wali Kota Bekasi menurut dia, jangan hanya sebatas omongan, gagasan tersebut harus diimplementasikan dalam bentuk langkah konkret.
Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar
TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI TIMUR - Sejarawan Bekasi Ali Anwar mengomentari gagasan penyatuan wilayah Bekasi dengan Provinsi DKI Jakarta.
Wali Kota Bekasi menurut dia, jangan hanya sebatas omongan, gagasan tersebut harus diimplementasikan dalam bentuk langkah konkret.
Penulis buku Revolusi Bekasi (2016) ini mengatakan, gagasan penyatuan wilayah Bekasi dengan DKI Jakarta harus disikapi secara serius. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mulai dari sekarang dapat membentuk tim khusus guna membahas percepatan gagasan tersebut.
"Sebaiknya jangan hanya sebatas omongan, jadi harus dibentuk tim untuk percepatan. Dalam hitungan saya, cepat atau lambat, Bekasi ini akan kembali ke Jakarta," kata Ali kepada TribunJakarta.com, Selasa (20/8/2019).
Ali lebih sepakat gagasan penggabungan wilayah ini disebut Bekasi kembali ke Jakarta bukan Bekasi gabung ke Jakarta.
Sebab dari fakta sejarah, sejak zaman pendudukan penjajah, wilayah Bekasi dahulu merupakan bagian dari Jakarta melalui Karesidenan Jatinegara.
Pada tahun 1950, ketika Belanda membuat konfrontasi melalui Republik Indonesia Serikat (RIS), tokoh pejuang Bekasi menolak keras, mereka sepakat keluar dari Jakarta yang pada saat itu merupakan kekuasaan RIS untuk tetap menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Tokoh masyarakat Bekasi ingin keluar dari RIS tapi bergabung ke Republik Indonesia, tapi oleh pemerintah pusat kemudian Bekasi dimasukan ke dalam wilayah Provinsi Jawa Barat," jelas Ali.
Namun, setelah RIS bubar dan NKRI kembali menguasai Jakarta, Bekasi tetap menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Karesidenan Jatinegara-pun dirubah menjadi Kabupaten Bekasi yang dikemudian hari, melakukan pemekaran menjadi kota dan kabupaten secara otonomi hingga saat ini.
Sejarawan Bekasi yakin dimasa yang akan datang, Bekasi akan kembali menyatu dengan DKI Jakarta. Sebab, dari segi kultur budaya Bekasi dan Jakarta sudah mengakar sehingga pantas jika pemerintah pusat memikirkan gagasan penggabungan kedua wilayah untuk alasan percepatan pembangunan dan pemerataan.
• Polemik Obat Kedaluwarsa saat Kehamilan Novi Berusia 15 Pekan
"Maupun itu tahun ini, lima tahun kedepan, 25 tahun kedepan, pasti itu akan bergabung ke Jakarta karena secara kultur kita sudah menyatu, dari aspek trasportasi sudah menyatu, militer juga sudah menyatu, kepolisian sudah menyatu, nomor telepon sudah menyatu, jadi cuma tinggal aspek pemerintahannya saja bagaimana," tegas dia.
Sebelumnya, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi membeberkan bahwa wilayahnya sempat digagaskan untuk masuk menjadi bagian Provinsi DKI Jakarta. Hal ini diutarakan ketika ditanya soal wacana pemekaran wilayah Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Bogor Raya dimana, Bekasi masuk dalam wacana provinisi baru tersebut.
"Ada yang gagas (wilayah Bekasi) jadi Jakarta Tenggara, karena kesamaan kultur, budaya," kata Rahmat saat dijumpai di Gedung DPRD Kota Bekasi, Jalan Chairil Anwar, Bekasi Timur, Jumat (16/8/2019).
Gagasan Jakarta Tenggara akan sangat relevan bila dibanding wacana pembentukan Provinsi Bogor Raya yang sempat disinggung Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto dan Bupati Bogor Ade Yasin.
"Pada intinya kalau untuk mempercepat proses kesejahteraan, pembangunan, sah-sah saja, cuma mungkin Bekasi itu lebih identik dengan Jakarta," imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/landmark-kota-bekasi_20180720_131446.jpg)