Jadi SMKN Kriya di DKI Jakarta, Ini Kendala yang di Hadapi Pihak SMKN 58
Tercatat lebih dari 1.000 siswa yang terbagi di 35 rombongan belajar mengenyam pendidikan di sini dengan bimbingan 36 guru produktif.
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Wahyu Aji
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina
TRIBUNJAKARTA.COM, CIPAYUNG - Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 58, Cipayung, Jakarta Timur keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk guru produktif.
SMKN 58 merupakan satu-satunya sekolah kriya di wilayah Provinsi DKI Jakarta.
Terdapat tujuh jurusan di sekolah ini, yakni seni lukis, Desain Komunikasi Visual (DKV), Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), Kriya Kreatif Batik dan Tekstil (KKBT), Kriya Kreatif Kayu dan Rotan (K3R), Kriya Kreatif Logam dan Perhiasan (KKLP) serta Teknik Fabrikasi Logam dan Manukfatur (TFLM).
Tercatat lebih dari 1.000 siswa yang terbagi di 35 rombongan belajar mengenyam pendidikan di sini dengan bimbingan 36 guru produktif.
Kasubag Tata Usaha SMKN 58 Dra Mutriningsih sudah bersurat terkait kurangnya guru. Namun ia menjelaskan guru PNS di bidang tersebut masih sedikit.
"Pendistribusian guru produktif kriya belum sesuai dengan sekolah. Sehingga para guru produktif masih sedikit untuk menangani jumlah siswa yang banyak," ucapnya di Cipayung, Selasa (20/8/2019).
Guru yang sedikit di bidang kompetensi produktif bukanlah satu-satunya kendala yang dialami. Di lain sisi terkait pengadaan fasilitas barang praktek juga masih minim di beberapa jurusan.
Harga barang yang terpaut mahal membuat para siswa biasa berkelompok jika menggunakan barang tersebut.
"Untuk barang pun masih terbatas. ini khusus untuk yang alat besarnya. Harganya yang puluhan bahkan ratusan juta kan jadi pertimbangan juga. Jadi alat-alat seperti di bengkel logam misalnya kita rawat saja. Tapi tiap ada kesempatan kita selalu lakukan pengajuan alat-alat ini ke Kementerian Pendidikan," lanjut wanita berhijab ini.
SDM dan alat yang tak memadai dikatakan Mutri sebagai acuan anak untuk semakin maju. Pihak sekolah pun juga terpacu untuk mencetak anak-anak berprestasi dibalik keterbatasan.
Sehingga hasil karya apapun dari tiap jurusan dipamerkan dalam tingkat Nasional. Bahkan sempat Go Internasional ke Amerika pada tahun 2000-an.
"Itulah sekolah yang bagus. Dibalik keterbatas kita harus hasilkan sesuatu yang unggul. Dengan karya kita harus unggul. Apalagi menjadi satu-satunya sekolah kriya se-DKI Jakarta. Sehingga karya para siswa ini sudah sampai di kancah Internasional," tutupnya.
Murti berharap baik Gubernur maupun Pemerintah Pusat mampu membantu memasarkan hasil karya anak bangsa dari sekolah mereka. Sehingga kreasi dan inovasi siswa SMKN 58 bisa kembali Go Internasional seperti tahun 2000-an.
Pantauan TribunJakarta.com, saat ini hasil karya para siswa sudah dimasukan dalam Techno Park and Gallery.
Techno Park and Gallery merupakan wadah untuk pemajangan hasil karya terbaik siswa di tiap jurusan. Galleru ini juga sebagai pengenal kepada masyarakat bahwa hasil kreatifitas dab inovasi anak bangsa tak kalah menarik dan bagus dari brand luar negeri.
Tiap barang yang ada di Techno Park and Gallery dijual mulai puluhan hingga jutaan rupiah.
Selain itu, beberapa barang di Techno Park and Gallery sudah memiliki hak cipta dengan nama Lalita Prana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/kasubag-tata-usaha-smkn-58.jpg)