Normalisasi Ciliwung Dilanjutkan, Warga Balekambang Ogah Direlokasi

Asih mengaku ogah ditempatkan di rumah susun (Rusun) sebagaimana warga Kampung Pulo yang direlokasi ke Rusun Jatinegara Barat.

Normalisasi Ciliwung Dilanjutkan, Warga Balekambang Ogah Direlokasi
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Permukiman warga RW 05 Kelurahan Balekambang di bantaran Sungai Ciliwung, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (21/8/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Niat Pemprov DKI Jakarta melanjutkan normalisasi Sungai Ciliwung pada tahun 2020 tak sepenuhnya disambut baik warga RW 05 Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati.

Asih (41), warga RT 05 yang sudah 20 tahun lebih bermukim di bantaran Sungai Ciliwung berharap normalisasi tak mengharuskan keluarganya angkat kaki dari rumah.

"Saya sudah nyaman, sudah terbiasa banjir. Lagian di sini banjirnya enggak terlalu parah, enggak setiap banjir kita harus mengungsi. Maunya sih enggak sampai digusur," kata Asih di Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (21/8/2019).

Meskipun Pemprov DKI menyiapkan hunian bagi warga rumahnya digusur, dia memilih bertahan di rumah yang berjarak tak sampai 10 meter dari Sungai Ciliwung.

Warga Minta Pemprov DKI Pastikan Bidang yang Terdampak Normalisasi Ciliwung

Asih mengaku ogah ditempatkan di rumah susun (Rusun) sebagaimana warga Kampung Pulo yang direlokasi ke Rusun Jatinegara Barat.

"Tetap enggak mau, sekalipun Rusunnya pakai lift juga. Maunya Ciliwung di naturalisasi yang katanya enggak pakai cara menggusur rumah warga itu," ujarnya.

Perihal ganti rugi Asih pesimis dapat ganti rugi, terlebih dalam jumlah besar karena rumah yang dia huni berdiri di tanah garapan.

Bila Pemprov DKI sudi memberi uang ganti rugi, dia bahkan yakin besarnya tak sepadan dengan total material fisik bangunan rumahnya.

"Memang ini tanah garapan, punya pemerintah. Jadi kalau dapat ganti rugi besar ya enggak mungkin, kalau nanti harus pindah saya enggak tahu harus kemana," tuturnya.

Senada dengan Asih, Satria (30) warga RW 05 yang rumahnya bermukim di bantaran Ciliwung juga berharap tak harus angkat kaki dari rumahnya.

Menurutnya banjir luapan Ciliwung bukan masalah besar karena sudah sejak kecil tinggal di bantaran dengan status tanah garapan.

"Mungkin kalau Rusunnya dekat dari sini warga mau, tapi tetap lebih enak tinggal di sini. Biarpun rumah rusak dihantam arus juga tetap lebih enak," kata Satria.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Juaini Yusuf mengatakan relokasi bagi warga ditangani Dinas Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman DKI.

"Kalau memang sudah siap perumahan buat penempatan mereka yang kita mau pindahkan ya tentunya kita harus sosialisasi dulu, dibantu dengan aparat kelurahan sama kecamatan. Tidak langsung kita main bongkar saja," kata Juaini, Jumat (15/8/2019).

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved