Vonis Mati Tika Herli Janda Polisi: Sewa Pembunuh Bayaran Habisi Ibu Anak, Gagal Kabur Jadi TKI

Sebelum divonis mati, janda polisi delapan bulan lalu masih ingat terbunuhnya Ponia (31) dan Selvia (13) yang mayatnya dilempar dari Jembatan Endikat.

Vonis Mati Tika Herli Janda Polisi: Sewa Pembunuh Bayaran Habisi Ibu Anak, Gagal Kabur Jadi TKI
Tribun Sumsel
Tika Herli (31), otak pembunuhan ibu dan anak sebelum diwawancarai khusus tim Tribun Sumsel di Polres Pagaralam. Tika Herli menyewa Riko Apriadi dan Jefri untuk menghabisi Ponia dan putrinya, Selvia. 

Balok kayu yang Riko gunakan untuk memukul Ponia didapat dari kebun.

Selvia yang berada di mobil keluar tapi dikejar oleh Jefri. Sepanjang perjalanan lengan Jefri terus melingkar di leher putri Ponia.

Selvia kemudian dibunuh. Dada korban dipukul tiga kali oleh Riko tapi masih hidup. Akhirnya Jefri ikut memukul kepalanya hingga tewas.

Setelah tewas, mayat Ponia dan Selvia dibawa dan ditaruh di bagasi mobil. Jam menunjukkan pukul lima sore.

Dari sana mobil mengarah ke Jembatan Endikat yang menghubungkan Lahat dan Pagaralam.

Mayat keduanya kemudian dibuang pelaku dari atas jembatan sekitar pukul 22.00 WIB. Suasana saat itu sepi dan cuaca sedang hujan rintik-rintik.

Foto saat petugas dari Satreskrim Polres Pagaralam menjemput tersangka Tika otak dari pelaku pembunuhan ibu dan anak yang tersebar di akun media sosial @Palembang_Gelantums.
Foto saat petugas dari Satreskrim Polres Pagaralam menjemput tersangka Tika otak dari pelaku pembunuhan ibu dan anak yang tersebar di akun media sosial @Palembang_Gelantums. (Istimewa)

"Dari jam setengah tujuh sore sampai jam sepuluh malam. Anaknya dulu sudah itu mamanya," aku Riko.

Rencana menghabisi nyawa Ponia berikut anaknya berhasil, malam itu mobil meluncur ke rumah kawan Jefri di Lahat. Di sanalah mobil dicuci untuk menghilangkan jejak kejahatan mereka.

Tak sampai menginap di Lahat, setelah mobil dicuci bersih, Tika, Riko dan Jefri kembali ke Lahat.

Berakhir di Penampungan TKI

Masih dihantui perbuatannya membunuh Ponia dan Selvia, pelaku Tika, Jefri dan Riko memutuskan pergi ke Jakarta.

"Awalnya, niat kami mau kerja. Dia (Riko, red) mau ke Jakarta. Kalau aku niatnya mau ke Jepang. Si Jefri mau ikut kerja dengan dia," aku Tika.

Beberapa hari kemudian, tepatnya Selasa (25/8/2019), warga menemukan satu jasad perempuan dewasa di Sungai Lematang Lekung Daun, Lahat.

Sementara jasad si remaja ditemukan empat hari setelah penemuan yang pertama. Kondisi kedua jasad sudah membusuk.

Selidik punya selidik, itulah jasad Ponia dan Selvia yang dibunuh Riko dan Jefri atas suruhan Tika.

Berita ini lekas tersebar dan viral di Facebook dan Instagram. Dari media sosial Tika mengenali kedua jasad itu adalah Ponia dan anaknya.

Ponia ditemukan dalam kondisi muka hancur dan rahang patah. Berikutnya warga menemukan jasad Selvia

"Saya tahu dari Facebook dan IG," aku Tika.

Kasus penemuan jasad ini kemudian diselidiki Polres Pagaralam dan kecurigaan mengarah kepada Tika berdasarkan transaksi bank.

Personel kepolisian kemudian ke Jakarta dan menangkap para pelaku di penampungan TKI. Diketahui, Tika memang berniat melarikan diri untuk bekerja sebagai TKI di Taiwan.

Tika, Riko dan Jefri, kompak dan siap menanggung hukuman yang ditimpakan karena perbuatannya merencanakan pembunuhan Ponia dan Selvia.

"Kami harus menerima hukuman setimpal apapun itu harus siap," aku Tika.

(Tribun Sumsel/Kompas.com)

Penulis: Y Gustaman
Editor: Y Gustaman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved