Kisah Perjuangan Musa, Tukang Tambal Ban yang Pernah Ikut Bangun Hotel Indonesia

"Sudah seharian tadi di pinggir jalan, tapi belum ada motor yang menepi. Biasanya memang begitu," kata Musa saat ditemui TribunJakarta.com.

Kisah Perjuangan Musa, Tukang Tambal Ban yang Pernah Ikut Bangun Hotel Indonesia
TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Musa, Tukang Tambal Ban yang Pernah Ikut Bangun Hotel Indonesia 

Musa terlibat untuk membangun Hotel yang dirancang oleh arsitek Abel Sorensen dan Istrinya, Wendy, asal Amerika Serikat itu.

Kenangnya, kebanyakan tenaga ahli saat pembangunan itu merupakan orang asing.

Sedangkan orang pribumi, kala itu, hanya bekerja sebagai pekerja kasar.

"Saya jadi kuli, ngangkat-ngangkat yang berat. Ngaduk semen hingga melakukan plester dinding," ujarnya.

Membangun hotel itu, akunya, berlangsung lama lantaran alat-alat berat tak secanggih sekarang.

"Perlu bertahun-tahun bangun hotel itu. Karena enggak secanggih sekarang alat-alatnya. Istilahnya kalau dulu 7 tahun sekarang bisa sangat cepat," terangnya.

Saat dulu, ia dibayar dengan menggunakan koin setiap selesai bekerja.

"Dulu upahnya masih koin bukan uang kertas. Sekarang kuli kan udah ratusan ribu sekali kerja," terangnya.

Kenangan Tempo Dulu Kawasan Tanah Abang

Di mata Musa saat muda, suasana kawasan Tanah Abang jauh berbeda dengan saat ini.

Halaman
1234
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Kurniawati Hasjanah
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved