Krisis Air di Cibarusah Bekasi, Warga Terpaksa Minum Air Kali

Kali Cihoe sumber mata air saat musim kemarau melanda berjarak kurang 2 kilometer dari rumah Ejen

Krisis Air di Cibarusah Bekasi, Warga Terpaksa Minum Air Kali
TribunJakarta/Yusuf Bachtiar
Sejumlah warga saat memanfaatkan sisa air di Kali Cipamingkis Kecamatan Cibarusah Bekasi. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, CIBARUSAH - Krisis air bersih akibat kekeringan yang melanda Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi membuat warga setiap hari hidup dalam penderitaan. Kondisi ini sudah terjadi sejak tiga bulan terkahir, sisa air kali di wilayah setempat jadi tumpuan utama warga selama musim kemarau.

Di Cibarusah, terdapat dua aliran kali yang membentang di wilayah tersebut. Pertama ada Kali Cipamingkis dan kedua adalah Kali Cihoe, saat ini kondisi kedua kali tersebut mengering, hanya ada sisa air yang masih nampak dari sela bebatuan dan pasir di dasar kali.

Ejen warga Desa Ridogalih Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi.
Ejen warga Desa Ridogalih Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. (TribunJakarta/Yusuf Bachtiar)

Enjen (40), warga Cibarusah mengatakan, hampir setiap hari dia mondar-mandir kali untuk mengangkut air buat kebutuhan di rumah. Ia mengaku lebih sering ke Kali Cihoe, aliran kali itu dianggap lebih dekat dari kediamannya di Desa Ridogalih ketimbang harus ke Kali Cipamingkis.

Dekat dalam hal ini bukan berarti hanya sepelemparan batu, Kali Cihoe sumber mata air saat musim kemarau melanda berjarak kurang 2 kilometer dari rumah Ejen. Kondisi ini tentu tidak mudah, ayah satu orang anak ini dalam sehari bisa mengangkut enam jerigen masing-masing berisi 20 liter air.

"Setiap hari ambil air di kali, Alhamdulillah kalau lagi ada batuan air enggak ambil di kali," kata Ejen saat dijumpai ketika mengambil bantuan air bersih di Kantor Desa Ridogalih, Kamis (22/8/2019) kemarin.

Ejen sehari-hari bekerja sebagai tukang ngarit rumput, jika musim kemarau seperti ini, rumput yang menjadi sumber mata pencahariannya juga akan ikut mengering. Alhasil, dia terpaksa kerja serabutan seperti parkir, kuli panggul sawah, apapun dia kerjakan asal bisa dapat menafkahi anak dan istrinya.

Kekeringan untuk warga susah sepertinya tentu menambah beban yang sangat berat, air yang menjadi sumber kehidupan sudah barang tentu harus ada, apalagi untuk kebutuhan minum.

Penghasilan yang tak seberapa tentu tidak akan sanggup menutupi kebutuhan hidupnya ditambah beban biaya air. Biasaya, warga Cibarusah yang memiliki uang lebih, memilih membeli air galon isi ulang seharga Rp 5.000.

Air isi ulang ini digunakan untuk kebutuhan minum dan memasak, tapi tidak untuk Ejen, dia mengaku tidak memiliki kemampuan membeli air galon. Terpaksa, air Kali Cihoe jadi tumpuan utama, bukan hanya sekedar untuk mandi cuci kaki, air kali juga digunakan untuk konsumsi.

Halaman
12
Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved