Riwayat Museum Wayang, Tempat Bersemayam 18 Gubernur Jenderal Zaman Kolonial

Museum wayang tak terlepas dari banyaknya pengunjung yang datang di akhir pekan. Ada kuburan gubernur jenderal Hindia Belanda.

Riwayat Museum Wayang, Tempat Bersemayam 18 Gubernur Jenderal Zaman Kolonial
Tribunjakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Pemandu wisata Museum Wayang, Ruslan bersama Batu Nisan Baron Van Imhoff (kiri Ruslan) di Museum Wayang di kompleks Kota Tua pada Sabtu (24/8/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, TAMAN SARI - Museum wayang tak terlepas dari banyaknya pengunjung yang datang di akhir pekan.

Rombongan pengunjung pun tampak hilir-mudik memasuki museum yang berada di Kompleks Kota Tua itu.

Namun, sejarah mencatat, Museum Wayang dulunya merupakan sebuah pemakaman yang terkesan jauh dari kata ramai.

Di tanah itu, merupakan tempat peristirahatan terakhir belasan Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu.

Dalam buku Kota Tua Punya Cerita, di salah satu artikel karya Mulyawan Karim berjudul Menikmati Oud Batavia menyebutkan, Museum Wayang berdiri tahun 1626.

Dulunya bangunan itu merupakan Gereja De Oude Hollandse Kerk (Gereja Belanda Lama).

Kemudian pada tahun 1732, gereja itu dibongkar dan dibangun menjadi Nieuwe Hollandsche Kerk (Gereja Belanda Baru).

Namun, di area gereja itu, cerita Mulyawan, difungsikan sebagai tempat pemakaman bagi orang Belanda.

Sekira 18 Gubernur Jenderal Belanda kala itu bersemayam di dalam tanah yang kini ditempati menjadi Museum Wayang.

Halaman
1234
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved