Kemenag Tangsel Harap Sosok Wali Kota Pengganti Airin Paham Demografi dan Junjung Toleransi

Harapan pun banyak diungkapkan berbagai pihak termasuk dari Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tangsel, Abdul Rojak.

Kemenag Tangsel Harap Sosok Wali Kota Pengganti Airin Paham Demografi dan Junjung Toleransi
TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR
Sekjen MUI Tangerang Selatan (Tangsel), Abdul Rojak, di kediamannya di Jalan Cilenggang 1, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (19/6/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Tangerang Selatan (Tangsel) tidak lama lagi akan mengadakan Pilkada untuk memilih wali kota dan wakil wali kota yang baru pada 2020 mendatang.

Harapan pun banyak diungkapkan berbagai pihak termasuk dari Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tangsel, Abdul Rojak.

Sebelumnya Rojak baru saja berdiskusi dengan tokoh lintas agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tangsel di restoran Telaga Seafood, Serpong, Tangsel, Rabu (28/8/2019).

Rojak berharap wali kota terpilih pengganti Airin Rachmi Diany yang saat ini menjabat, bisa memahami demografi warga Tangsel yang majemuk secara kebudayaan maupun agama.

"Tangsel itu demografinya majemuk, heterogen, ya semua agama di sini ada, Islam, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu. Berbagai macam ritual, perayaan aneka macam. Komunitasnya juga sangat signifikan, Kristen Katolik banyak," ujar Rojak.

Dengan pemahaman akan kemajemukan itu, ia berharap sosok wali kota bisa mengayomi seluruh warganya, toleran terhadap penganut agama apapun.

"Jadi figur calon wali kotanya benar benar bisa menaungi bisa mengayomi dan betul-betul bisa melindungi aneka ragam keyakinan yang ada di Tangsel," harapnya.

VIDEO Anak Didik Balai Latihan Kerja Kemnaker Ciptakan Game Android dan Film Animasi

Wanita yang Tewas di Kebon Jeruk Ternyata Dibunuh Suaminya

Penjelasan PLN Soal Pemadaman di Sebagian Wilayah Jakarta, Bintaro dan Tangsel Hari Ini

Ia takut jika pemimpin terpilih kelak merupakan sosok yang intoleran, bisa menimbulkan konflik horizontal di masyarakat.

Rojak menegaskan soal kebebasan beribadah dan tidak ada pembatasanataupun diskriminasi.

"Makanya figur wali kotanya ya harus toleran. Harus menghargai perbedaan, tidak boleh sempit, tidak boleh diskriminatif, apa lagi sampai terjadi kasus-kasus tidak bisa melaksanakan kebaktian, ibadah sesuai dengan keyakinan," ujarnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved