Rumah Murah

Ketua Real Estat Indonesia Sebut Masalah DP Jadi Kendala Masyarakat Indonesia Enggan Mencicil Rumah

Sementara, alasan lainnya, yaitu lantaran harga properti terlalu tinggi dan belum siap membeli properti.

Ketua Real Estat Indonesia Sebut Masalah DP Jadi Kendala Masyarakat Indonesia Enggan Mencicil Rumah
Tribun Jakarta/Nawir Arsyad Akbar
Beberapa rumah di Perumahan Puri Lestari, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Rabu (7/2/2018) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat

TRIBUNJAKARTA.COM, SETIA BUDI - Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI), Soelaeman Soemawinata, mengatakan kendala utama masyarakat Indonesia dalam mencicil rumah yakni terkait uang muka alias DP.

Mengacu data Digital Economic Forum, kata dia, Down Payment (DP) menempati urutan tertinggi terkait penyebab masyarakat belum berencana membeli properti.

Sementara, alasan lainnya, yaitu lantaran harga properti terlalu tinggi dan belum siap membeli properti.

"Konsumen properti khususnya pangsa pasar yang terbesar saat ini adalah (milenial). Sesungguhnya mereka memiliki minat yang cukup tinggi untuk membeli," kata Soelaeman, saat konferensi pers bertajuk 'Pameran Properti Terbesar di Indonesia', di kawasan Setia Budi, Jakarta Selatan, Kamis (5/9/2019).

Sayangnya, kata dia, hal tersebut sukar terealisasikan karena masalah DP dan kurangnya uang tabungan dari kategori milenial.

"Serta tingginya harga properti yang tidak sepadan dengan penghasilan per bulan," imbuh Soelaeman.

Pameran Properti IIPEX 2019 Kolaborasi PT Dyandra Promosindo, REI, dan Rumah.com

Dia melanjutkan, masalah pelik yang dihadapi pencari properti bukan berarti tidak bisa dicarikan jalan keluarnya.

Sebaliknya, kata dia, kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi para pengembang properti guna menangkap peluang dengan sebaiknya.

"Tantangan bagi para developer, bagaimana menangkap peluang pasar dan menyediakan produk yang dibutuhkan kaum milenial," tambah Soelaeman.

Dia menambahkan, konsep hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD) menjadi yang paling banyak diincar.

"Jumlah proyek hunian terintegrasi TOD sudah cukup masif," ujarnya.

Penulis: Muhammad Rizki Hidayat
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved