Kebijakan Ganjil genap

Jumlah Pelanggar Ganjil Genap di Jakarta Timur Mayoritas Terjadi Pagi Hari

Jumlah penindakan perluasan ganjil genap di wilayah Jakarta Timur lebih banyak terjadi di pagi hari.

Jumlah Pelanggar Ganjil Genap di Jakarta Timur Mayoritas Terjadi Pagi Hari
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Penindakan ganjil-genap di Jalan Gunung Sahari, Pademangan, Jakarta Utara, Selasa (10/9/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PULOGADUNG - Jumlah penindakan perluasan ganjil genap di wilayah Jakarta Timur lebih banyak terjadi di pagi hari, yakni saat pemberlakuan pada pukul 06.00 WIB sampai 10.00 WIB.

Kasie Lalu Lintas Sudinhub Jakarta Timur Andreas Eman mengatakan data hasil penindakan yang dilakukan kepolisian lebih didominasi terjadi pada pagi hari.

"Selama dua hari ini pelanggaran perluasan ganjil genap di Jakarta Timur lebih didominasi pagi hari. Untuk penindakan pukul 16.00 WIB sampai 21.00 WIB ada, tapi lebih sedikit," kata Eman di Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (11/9/2019).

Sering Gedor Mobil dan Lakukan Pemalakan, Dua Pak Ogah di Jakarat Barat Didor

Hasil Liga 1 2019 - Gol Indah Boaz Buat Persija Jakarta Terpaku di Zona Degradasi

Pada hari pertama penindakan yang berlangsung hingga pukul 10.00 WIB, Satlantas Polres Metro Jakarta Timur menindak 153 pengemudi.

Sementara para pukul 16.00 WIB sampai 21.00 WIB tercatat 144 pengemudi yang ditilang karena melanggar perluasan ganjil genap.

"Untuk penindakan di hari kedua pada pagi hari sebanyak 202, sedangkan untuk sore harinya tercatat sebanyak 47 pengemudi mobil," ujarnya.

Eman sendiri belum dapat memastikan alasan jumlah pelanggaran di pagi hari lebih banyak dibanding pada sore hingga malam hari.

Namun dia menduga pengemudi mobil cenderung lebih menaati peraturan dibandingkan pada pagi hari saat penindakan.

"Ada kemungkinan jam pulang para pengendara mobil lebih menyesuaikan perluasan ganjil genap," tuturnya.

Pengendara mobil yang melanggar perluasan ganjil genap dikenakan pasal 287 ayat 1 UU LLAJ dengan ancaman denda maksimal Rp 500 ribu.

Penulis: Bima Putra
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved