Polisi Buru Otak Pabrik Rumahan Ribuan Handphone Rekondisi di Alam Sutera

"Diketahui ada tiga pemilik industri rumahan itu. Ketiganya merupakan warga negara Indonesia. Masih kami kejar dan masih dikembangkan," ujar Dicky.

Polisi Buru Otak Pabrik Rumahan Ribuan Handphone Rekondisi di Alam Sutera
TribunJakarta.com/Ega Alfreda
Penggerebekan industri rumahan handphone rekondisi di Ruko De Mansion Alam Sutera, Pinang, Kota Tangerang oleh Polres Metro Tangerang Kota, Jumat (6/9/2019). 

"Ada dugaan tindak pidana perakitan home industry handphone ilegal atau terindikasi rekondisi. Handphone ini rakitan ilegal atau rekondisi ini masih kita dalami. Jadi handphone ini rakitan ilegal dari Cina," jelas Karim di Alam Sutera, Jumat (6/9/2019).

Hingga saat ini, jajarannya masih menghitung total handphone canggih yang dirakit ulang di gudang tersebut.

Namun, Karim memastikan jumlahnya mencapai angka ribuan terdiri dari beberapa merek handphone terkenal.

Seperti, Xiaomi, Oppo, Nokia, Samsung, Apple dan Motorola.

"Di sini posisi handphone punya sparepart terpisah, kemudian dirakit dan dikasih casing baru termasuk item-item yang ada perangkatnya. Lalu dibungkus dan dibuat boks baru," ungkap Karim.

Gudang atau industri rumahan tersebut, menurut Karim sudah bergerak sejak tahun 2016 dan menyasar ke toko-toko online se-Indonesia.

"Tapi ada juga beberapa toko retail yang mengambil barang juga dari sini," sambung Karim.

Lanjutnya, dalam sebulan industri rumahan tersebut dapat memproduksi hingga 10 ribu handphone yang dirakit ulang.

Dalam setahun, industri rumahan ilegal tersebut bisa melahirkan sekira 120 handphone rakitan yang secara keuangan merugikan negara karena lolos pajak.

Dari penggerebekan tersebut, telah ditahan 14 pekerja yang empat diantaranya adalah Warga Negara Asing (WNA) asal Cina dan 10 diantaranya adalah pekerja dari Indonesia.

"Empat WNA ini dari Cina yang tugasnya mengawasi produksi dan mengantarkan sparepart yang memang didatangkan dari Cina. Kalau sisanya pribumi semua," jelas Karim.

Ke-14 tersangka tersebut pun dikenakan pasal berlapis tentang perlindungan konsumen, perdagangan, dan tentang telekomunikasi.

Dari pasal 62 ayat 2 UU RO nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungam konsumen dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dan atau denda paling banyak Rp 2 miliar.

Lalu pasal 104 ayat 1 UU RI nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan dengan ancaman penjara lima tahun dan atau denda paling banyak Rp 5 miliar.

Terakhir, para tersangka dikenakan pasal 47 ayat 1 UU RI nomor 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi dengan ancaman pidana paling lama penjara enam tahun dan denda paling banyak Rp 600 juta.

Dari pengamatan TribunJakarta.com di industri rumahan tersebut terdapat empat lantai yang setiap lantainya disulap menjadi tempat bongkar pasang handphone.

Terdapat banyak sparepart seperti baterai, kamera handphone, casing hingga sparepart-sparepart kecil yang terpisah. Banyak juga boks-boks handphone yang masih kosong nantinya akan dimasukan handphone rakitan.

"Jadi semua aktivitas perakitan dan pelebelan handphone rekondisi ini dilakukan di sini semua sampe distribusi ke retail-retail se-Indonesia," kata Karim.

Penulis: Ega Alfreda
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved