Breaking News:

Bayi dan Anak Korban Kebakaran Jatinegara Kekurangan Bantuan Susu dan Popok

"Kebutuhan untuk anak-anak masih kurang, susu, Popok Bayu, selimut itu butuh banget buat yang punya anak bayi," ujarnya.

TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Posko pengungsian bagi korban kebakaran di Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (22/9/2019).  

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Warga Kelurahan Rawa Bunga dan Kelurahan Bali Mester korban kebakaran Sabtu (21/9/2019) yang kini mengungsi di lima posko masih kekurangan sejumlah bantuan.

Yahya (25), mengatakan pasokan susu, minyak telon, selimut, dan pampers bagi kebutuhan bayi dan balita yang orang tuanya kehilangan tempat tinggal masih belum mencukupi.

"Kebutuhan untuk anak-anak masih kurang, susu, Popok Bayu, selimut itu butuh banget buat yang punya anak bayi. Kalau kebutuhan makanan, baju sudah cukup lah," kata Yahya di Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (22/9/2019).

Beruntung hingga kini belum ada bayi, balita, dan anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan dampak kebakaran yang melahap sekira 129 rumah.

Selain kebutuhan pokok, Yahya berharap ada bantuan kipas angin guna menangkal panasnya suhu dan debu yang menyebar di sekitar posko.

"Kalau siang seperti ini panasnya kan parah ya, anak juga rewel karena panas. Kalau malam butuhnya selimut, soalnya di sini banyak yang punya bayi, balita, anak-anak," ujarnya.

Indra (29), warga lainnya membenarkan kurangnya pasokan kebutuhan bayi, balita, dan anak-anak bagi sekira 159 kepala keluarga (KK) yang terdampak.

Selain kebutuhan bagi anak-anak, pasokan bantuan yang dirasa warga belum mencukupi kebutuhan yakni air minum dan kebutuhan sanitasi.

"Kalau makanan sudah berlebih, tapi air minumnua kurang. Air untuk keperluan mandi segala macam juga masih kurang, kalau bisa cepat ditambah ya," tutur Indra.

Pantauan TribunJakarta.com di lokasi, warga yang mengungsi di dua tenda dekat perlintasan rel kereta api tampak paling tidak nyaman.

Selain suhu udara dan bisingnya deru mesin kereta, mereka harus terganggu debu yang terhempas ke tenda karena angin dan hempasan kereta.

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved