Kisah dr Soeko yang Meninggal saat Kerusuhan Wamena, Alasannya Pilih Pedalaman Bikin Terharu

Kisah dokter Soeko Marsetiyo yang meninggal saat kerusuhan di Wamena, alasannya tinggal di pedalaman bikin terharu.

Kisah dr Soeko yang Meninggal saat Kerusuhan Wamena, Alasannya Pilih Pedalaman Bikin Terharu
KOMPAS.com/WIJAYA KUSUMA
Proses pemakaman dr Soeko, salah satu korban kerusuhan Wamena, di Yogyakarta, Jumat (27/9/2019). 

Sementara itu, Kepala Balai Penanggulangan dan Pengendalian AIDS, Tuberkolosis dan Malaria (ATM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua dr Beeri Wopari mengatakan, dokter Soeko Marsetiyo bertugas di Tolikara sejak tahun 2013.

"Lebih banyak bertugas di Puskesmas, artinya di daerah terpencil, kurang lebih dua jam dari ibu kota kabupaten. Dua jam itu dengan medan yang berat dan beliau lebih banyak di sana, tetapi memang pilihan beliau tugas di pedalaman," ungkapnya.

Disampaikannya, di tempat tugasnya, dokter Soeko Marsetiyo sangat dekat dengan masyarakat.

"Beliau ini sangat disayangi oleh masyatakat di sana. Kita tenaga kesehatan masih sangat kurang, terutama di daerah-daerah pedalaman, jadi dengan beliau berpulang tentu untuk mengisi tenaga dokter kembali itu tidak mudah," ujarnya.

Kepergian dokter berusia 53 tahun ini menjadi duka dunia kesehatan Indonesia.

Mengenal Maskot Astronot Tom, Suporter Setia SMAN 61 Jakarta di DBL East Region 2019

Sekitar pukul 16.09 WIB, mobil ambulans yang membawa jenazah Dokter Soeko Marsetiyo tiba di pemakaman keluarga, Kejambon Lor, RT 03/RW13 Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman.

Isak tangis keluarga pecah seiring kedatangan jenazah dokter berusia 53 tahun ini.

Peti jenazah lantas dibawa ke dalam kompleks makam keluarga.

Usai disalatkan, almarhum lalu dibawa ke peristirahatan terakhirnya.

Isak tangis keluarga kembali pecah, seiring tanah menutup liang lahat.

Karangan bunga turut berduka cita pun mewarnai area pemakaman keluarga.

Sederet Fakta Baru Kerusuhan Wamena: 16 Orang Tewas hingga Ribuan Warga Mengungsi

Karangan bunga turut berduka cita antara lain datang dari Menteri Kesehatan RI, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Papua, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DIY, Ikatan Dokter Indonesia (Sleman), Keluarga Besar Alumni Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Turut hadir pula dalam proses pemakaman, Kepala Balai Penanggulangan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (ATM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua dr Beeri Wopari.

Dokter Soeko Marsetiyo meninggal di usia 53 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.

Jadi Tranding

Suasana Kota Wamena setelah rusuh, Kamis (26/9/2019).
Suasana Kota Wamena setelah rusuh, Kamis (26/9/2019). (Kontributor Tribunnews.com, Banjir Ambarita)

Tagar #DukaWamena menjadi salah satu trending di Twitter Indonesia hari ini.

Ribuan kicauan dengan tagar ini menunjukkan rasa simpati masyarakat atas peristiwa kerusuhan di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua beberapa hari lalu.

Publik mungkin sudah tahu, memanasnya situasi Wamena ini menimbulkan puluhan jiwa melayang, kerusakan fasilitas umum, dan rusaknya rumah warga karena tindakan anarkistis demonstran.

Aksi unjuk rasa siswa di Kota Wamena bermula pada Senin (23/9/2019) lalu.

Hingga Sabtu (28/9/2019), data dari kepolisian mencatat sebanyak 31 orang tewas akibat kerusuhan Wamena.

"Kami baru mendapat laporan 31 orang (meninggal dunia)," kata Karo Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjend (Pol) Dedi Prasetyo saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (28/9/2019) siang.

Menurut Dedi, pihak kepolisian masih terus melakukan pendataan terkait korban akibat tindakan anarkistis di Wamena.

Sementara itu, Komandan Kodim 1702/Jayawijaya, Letkol Inf Candra Dianto menyatakan bahwa korban tewas berjumlah 33 orang.

Massa yang bertindak anarkis juga membakar ratusan kendaraan baik sepeda motor dan mobil, ratusan ruko, dan rumah-rumah warga.

Dikabarkan sebelumnya, sebagian besar korban jiwa ini ditemukan dalam keadaan hangus terbakar, sementara lainnya akibat terkena sabetan benda tajam, panah, dan benda tumpul.

Kerusuhan Wamena yang disebutkan karena hoaks ucapan rasisme seorang guru kepada muridnya ini memang menimbulkan keresahan dan ketakutan masyarakat sekitar.

Ribuan warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Pemerintah mengambil tindakan membatasi akses internet dengan alasan untuk mengurangi informasi provokasi yang mungkin dapat menyulut emosi demonstran. (*)

Penulis: Suharno
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved