Peneliti LIPI Bandingkan Demo Mahasiswa 1998 dengan 2019, Bagai Bumi dan Langit

Peneliti LIPI menilai demonstrasi yang dilakukan massa mahasiswa pada Mei 1998 dan September 2019 berbeda situasi.

Peneliti LIPI Bandingkan Demo Mahasiswa 1998 dengan 2019, Bagai Bumi dan Langit
TribunJakarta.com/Muhammad Rizki Hidayat
Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris, saat konferensi pers tentang 'Perppu UU KPK dan gerakan mahasiswa di mata publik' pada kawasan Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Minggu (6/10/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat

TRIBUNJAKARTA.COM, TANAH ABANG - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menilai demonstrasi yang dilakukan massa mahasiswa pada Mei 1998 dan September 2019 berbeda situasi.

Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris, menganalogikan perbandingannya layaknya bumi dan langit.

"Situasinya sangat bumi dan langit," ucap Haris, sapannya, saat konferensi pers tentang 'Perppu UU KPK dan gerakan mahasiswa di mata publik' pada kawasan Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Minggu (6/10/2019).

Kata Haris, situasi pada 1998 yakni menyoal krisis ekonomi yang berdampak luas bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pada zaman orde baru tersebut, Indonesia dipimpin Soeharto.

"Ya bedanya jauhlah. Soeharto, kan, berkuasa 32 tahun. Kemudian juga, dulu ada krisis ekonomi yang melanda Jakarta khususnya Indonesia dan banyak negara di Asia," ujarnya.

Lalu, sambungnya, pada masa pemerintahan Soeharto bersistem otoriter atau sewenang-wenang.

Menurutnya, pada 1998 segala sesuatunya dibatasi oleh pemerintah.

Mulai dari kebebasan sipil, kebebasan berserikat, dan partai politik yang berpartisipasi dalam pemilu pun dibatasi.

"Dulu sistemnya otoriter. Segala sesuatunya dibatasi kebebasannya. Kebebasan sipil dibatasi, kebebasan berserikat dibatasi, partai politik yang ikut pemilu dibatasi," ucapnya.

UPDATE Kasus Narkoba Menantu Elvy Sukaesih: Berhenti Rawat Jalan di RSKO, Tak Patuhi Anjuran Dokter

Synchronize Fest 2019: Didi Kempot Sukses Buat Penonton Bergoyang Hingga Kejutan Kehadiran Iwan Fals

Kemudian, komparasi pada Mei 1998 dan September 2019, sektor perekonomian di Jakarta pun berbeda.

Pada 1998, kata Haris, ada peristiwa penjarahan mal, toko, dan sebagainya.

"Pada 1998 krisis ekonominya genting. Sekarang, ekonomi memang pertumbuhannya cuma lima persen. Tapi bukan krisis ekonomi. Jadi tidak ada masalah," katanya kepada TribunJakarta.com.

Penulis: Muhammad Rizki Hidayat
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved