Film Joker Sempat Bikin Khawatir Polisi New York, Tuai Kontroversi dan Bukan Tontotan Anak

Film Joker garapan Warner Bros Picture sudah tayang dan menjadi perbincangan di berbagai negara, tapi ada kekhawatiran di baliknya.

Editor: Y Gustaman
www.moviequotesandmore.com
Joker 

Unggahan salah satu pengguna Twitter, dr Gia Pratama, @GiaPratamaMD, viral di Twitter dan banyak dibagikan ulang.

Gia adalah seorang dokter yang juga penyuka film dan penulis.

Hingga Jumat (4/10/2019) siang, unggahan tersebut telah disukai lebih dari 2.000 pengguna, dan dibagikan ulang lebih dari 1.500 kali.

Saat dihubungi Kompas.com, Jumat, dr. Gia mengingatkan, Joker bukanlah sosok badut lucu.

“Saya pencinta film superhero, dan Joker adalah penjahat favorit saya," ujar Gia dalam artikel Kompas.com, Demam Joker, Ingat Ya, Ini Bukan Film untuk Anak-anak!

"Jadi saya mengerti bahwa Joker itu bukan badut yang lucu tapi sosiopath, tukang bunuh orang. Jadi jelas bukan untuk anak-anak,” kata Gia.

Menurut dia, film Joker mengisahkan proses pembentukan karakter Joker yang brutal tetapi penuh senyum.

Joker digambarkan sebagai sosok yang melihat dunia penuh dengan orang hipokrit yang menurutnya lucu.

Hal inilah yang dinilai Gia mengkhawatirkan jika ditonton dan ditiru anak-anak.

“Prosesnya kelam, penuh kepedihan, penuh gurauan ironi, dan penuh kekerasan yang sangat apa adanya."

"Anak-anak baru gede, usia SMP akan paling terkena dampak,” ujar Gia.

Beberapa scene dalam film Joker juga disebut dr. Gia memiliki suasana yang mungkin cenderung familiar di masyarakat seperti adanya ketimpangan kehidupan antara si miskin dan si kaya.

Ia khawatir, film ini membuat anak-anak mencerna atau menyimpulkan bahwa kekerasan itu bisa jadi jawaban atas setiap permasalahan.

“Bila mereka menonton bersama orangtuanya pun, apakah orang tua siap dengan banyak pertanyaan sesudahnya."

"Seperti apakah membalas bullying itu boleh dan benar untuk dilakukan?” papar Gia.

Gia mengatakan, sebaliknya, bagi orang dewasa, film ini sangat layak untuk ditonton.

"Cocok untuk mempertanyakan ke diri sendiri apakah kita bagian dari 'sistem masyarakat' yg menciptakan Joker?"

"Atau sudahkah kita berperan di masyarakat untuk mencegah terbentuknya Joker-Joker lain?" kata Gia.

Kecenderungan meniru

Senada dengan Gia, Psikolog Anak dari Lembaga Psikologi Annava Solo, jawa Tengah, Maya Savitri mengatakan, film Joker tak layak untuk anak-anak.

“Tidak layak, banyak adegan kekerasannya,” ujar Maya, saat dihubungi secara terpisah, Jumat siang.

Apa efeknya jika anak-anak menyaksikan film ini? Menurut dia, anak-anak memiliki kecenderungan meniru apa yang ditontonnya.

“Di Joker itu adegan kekerasan, ketakutan, dan sebagainya, yang memang tidak layak untuk ditonton anak-anak."

"Anak-anak akan meniru, merasa ketakutan, cemas, deg-degan, karena adrenalinenya terpicu,” ujar Maya.

Ia menyarankan kepada orangtua yang ingin mengajak anak-anak menonton film di layar lebar, sebaiknya memerhatikan sejumlah hal.

Hal itu di antaranya memerhatikan rentang usia, pesan moral film, kesiapan mental serta mempertimbangkan apakah anak-anak sudah siap dengan suara keras, dan sebagainya. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved