Bendungan Koja Jatiasih Kembali Dipenuhi Sampah Bambu

Kondisi ini terjadi setelah volume air di Kali Cikeas meningkat usai hujan yang terjadi di hulu sungai beberapa waktu lalu.

Bendungan Koja Jatiasih Kembali Dipenuhi Sampah Bambu
ISTIMEWA/Dokumentasi KP2C
Bendungan Koja Jatiasih dipenuhi sampah bambu yang memenuhi permukaan Kali Cikeas sepanjang 120 meter, Jumat (11/10/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, JATIASIH - Bendungan Koja Kali Cikeas yang berada di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi kemabli dipenuhi sampah bambu.

Kondisi ini terjadi setelah volume air di Kali Cikeas meningkat usai hujan yang terjadi di hulu sungai beberapa waktu lalu.

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman, mengatakan, tumpukan sampah bambu memenuhi permukaan kali sepanjang 120 meter.

Akibat tumpukan ini, aliran Sungai Cikeas yang merupakan hulu dari Kali Bekasi tersendat.

"Nah, sampah bambu ini kalau tidak segera ditanggulangi akan mengakibatkan banjir juga di lima perumahan. Satu perumahan villa Nusa indah tiga, villa mahkota pesona, perumahan mandosi permai, perumahan Puri nusapala, dan perumahan Jatisari kalau ini tidak segera diangkat," kata Puarman, saat dikonfimasi, Jumat (11/10/2019).

Puarman menilai, tumpukan sampah bambu ini diperkirakan mencapai 1.200 kubik. Fenomena tumpukan sampah bambu sudah kerap terjadi. Terkahir, kondisi serupa terjadi pada April 2019 lalu.

"Asal ada kenaikan air sungai Cikeas hampir 200 cm, selalu membawa material sampah bambu. Jenis sampah 90 persen sampah bambu, 10 persen sampah rumah tangga," ujar Puarman.

Masalah ini sejatinya sudah sering dilaporkan ke Pemkab Bogor maupun Pemkot Bekasi yang dalam hl ini, kedua wilayah tersebut terdampak langsung akibat keberadaan tumpukan sampah bambu.

"Sampah bambu ini, dari hulunya Cikeas di Bukit Pelangi dan Gunung Geulis, kami pernah melakukan penyusuran sungai, bahwa sampah bambu ini berasal dari 3 wilayah. 50 persennya dari Kabupaten Bogor, 25 persen dari Depok, 25 persen dari Kota Bekasi, jadi 3 wilayah ini harus turun tangan untuk menangani masalah ini, karena berulang terus-terus, satu tahun bisa 4-5 kali," ujarnya.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved