Breaking News:

Menkopolhukam Wiranto Diserang

Hermawan Sulistyo Ungkap Motif Sebenarnya Penusukan Wiranto, Polisi Sebut Pelaku Tertekan Karena Ini

Menurutnya, sosok Wiranto bukanlah musuh kelompok garis keras mengingat keluarganya yang religius dan dekat dengan agama.

Penulis: Kurniawati Hasjanah | Editor: Siti Nawiroh
Istimewa
Wiranto ditusuk oleh orang tak di kenal pada Kamis (10/10/2019). Kejadian penusukan Wiranto itu terjadi di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat politik sekaligus Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Kapuskambas UBJ) Hermawan Sulistyo menjelaskan analisanya mengenai motif sebenarnya pelaku penusukan Menkopolhukam Wiranto.

Hermawan Sulistyo menuturkan motif yang digunakan pelaku bukanlah hal yang lazim.

Bahkan, Hermawan Sulistyo menyinggung soal Amerika dan Surga.

TONTON JUGA:

Hal itu dikatakan Hermawan Sulistyo saat menjadi narasumber di program Apa Kabar Indonesia Malam dilansir dari kanal YouTube Talkshow Tv One pada Senin (14/10/2019).
Mulanya Hermawan Sulistyo menuturkan berbagai kejanggalan yang dilihatnya dari peristiwa penusukan Menkopolhukam Wiranto itu.
Satu diantaranya berupa penggunaan senjata kunai secara tunggal dan senjata berwarna merah.

Usus Wiranto Dipotong 40 Cm, Hermawan Sulistyo Temukan Keanehan Senjata Kunai yang Dipakai Penyerang

"Yang agak aneh buat saya itu, terdapat warna lain senjata kunai...biasanya itu hanya hitam saja dan ada lingkaran itu untuk tali. Penggunaan kunai ini normalnya oleh ninja dibarengi surikem, logam bintang tiga yang stabil dilempar."

"Diantara lempar-lempar itu maka dia bisa lempar kunainya. Kalau meleset bisa lempar lagi dan dipakai lagi. Jadi ini spesifik," tutur Hermawan Sulistyo.

Selain itu, Hermawan Sulistyo menuturkan seharusnya jika memang kejadian itu rekayasa maka menggunakan senjata biasa.

Hermawan Sulistyo bahkan merasakan keanehan dengan penyerangan Wiranto tersebut.

Menurutnya, sosok Wiranto bukanlah musuh kelompok garis keras mengingat keluarganya yang religius dan dekat dengan agama.

Putranya Syok Niat Ngeprank Berujung Cekcok di Mal, Uya Kuya Bocorkan Pengalaman Dikejar Pakai Pisau

Dengan berbagai fakta yang ada, Hermawan Sulistyo membantah adanya peristiwa rekayasa penusukan kepada Wiranto.

"Siapa yang mau rekayasa dengan resiko tinggi seperti itu?" tegas Hermawan Sulistyo.

INI VIDEONYA:

Lebih lanjut, Hermawan Sulistyo justru menuturkan motif sebenarnya pelaku penusukan, Abu Rara.

Viral Sebut Emil Salim Sesat, Terkuak Perlakuan Arteria Dahlan Kepada Sang Ibunda

Bahkan, ia menilai Abu Rara merupakan generasi baru di dunia jaringan teroris.

"Pelakunya itu menurut saya generasi baru yang punya motif bukan untuk meneror melawan Amerika atau Barat, tetapi ia mau ke surga," ucap Hermawan Sulistyo.

Motif tersebut diungkapkan Hermawan Sulistyo karena ia melihat Abu Rara mengajak istri ikut serta di penusukan Wiranto.

"Dengan mencari thogut sebagai wahana untuk naik surga. Tetapi dia enggan naik ke surga sendirian maka diajaklah istrinya," beber Hermawan Sulistyo.

Hermawan Sulistyo menilai, mungkin saja dalam beraksi tersebut Abu Rara juga mengajak buah hati jika memilikinya.

Penjelasan Polisi

Terungkap alasan Abu Rara nekat tusuk Wiranto, purnawirawan jenderal dan mantan Panglima ABRI.

Polri menyebut Syahrial Alamsyah, pelaku penusukan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan ( Menko Polhukam ) Wiranto, takut dan stres karena perekrutnya, Abu Zee, telah tertangkap polisi.

Dari hasil pengakuan Syahrial Alamsyah kepada polisi, ditangkapnya Abu Zee yang merupakan amir atau ketua dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) menjadi alasan mengapa dirinya menusuk Wiranto.

Abu Zee ditangkap polisi pada 23 September 2019 lalu.

"Dalam pemeriksaan 2 hari ini oleh Densus 88, SA ( Syahrial Alamsyah ) merasa takut, stres dan tertekan setelah mendengar ketuanya dia (Abu Zee) tertangkap," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (11/10/2019).

Brigjen Pol Dedi Prasetyo menjelaskan, meski Syahrial Alamsyah tidak terafiliasi dengan JAD Bekasi pimpinan Abu Zee tersebut, tetapi dia pernah satu kali berkomunikasi dengan Abu Zee melalui media sosial.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menunjukkan foto pelaku penusukan Menko Polhukam Wiranto Syahrial Alamsyah, Fitria Diana, serta senjata yang digunakan dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (11/10/2019).
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menunjukkan foto pelaku penusukan Menko Polhukam Wiranto Syahrial Alamsyah, Fitria Diana, serta senjata yang digunakan dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (11/10/2019). (KOMPAS.COM/DETI MEGA PURNAMASARI)

Syahrial Alamsyah dan Fitri Andriana bahkan dinikahkan oleh Abu Zee sebelum kemudian mereka pergi dan bermukim di Kampung Menes, Pandeglang, Banten.

"Dia takut, kalau (Abu Zee) tertangkap dia juga khawatir akan tertangkap, maka dia komunikasi lewat pihak istrinya. Dia persiapan (melakukan serangan), menunggu waktu," kata dia.

Selama ini, kata Brigjen Pol Dedi Prasetyo, pihaknya sudah mengintai Syahrial Alamsyah namun belum ditangkap karena belum ditemukan adanya persiapan atau bukti otentik untuk melakukan serangan.

Aksi yang dilakukan terhadap Wiranto, ia menjelaskan, adalah aksi spontan.

Brigjen Pol Dedi Prasetyo menjelaskan, dari pola yang dimiliki jaringan-jaringan teroris, tahapan yang dilakukan Syahrial Alamsyah baru berada di tahapan ketiga yang dinamakan dengan istilah taklim khusus.

Taklim khusus tersebut diistilahkan mereka sebagai tahapan orang-orang yang sudah mendapat penilaian cukup kuat dari tokoh perekrutnya untuk bergabung sebagai simpatisan.

Adapun tahapan pertama merupakan tahap perencanaan awal yang berupa membangun komunikasi intens baik langsung (verbal) maupun tidak langsung (melalui media sosial).

"Di situ ada tokoh yang biasa rekrutmen kepada orang-orang yang memiliki simpati kepada perjuangan ISIS," kata dia.

Kemudian tahapan kedua diistilahkan mereka sebagai taklim umum, berupa ajaran-ajaran cara menyerang untuk mematangkan sisi mental dan spiritual yang bersangkutan.

Selanjutnya, ada dua tahapan lainnya yang harus mereka lalui agar bisa melakukan aksi penyerangan mereka kepada target, dalam hal ini adalah pemerintah dan kepolisian.

Jaringan Teroris yang Nikahkan Penusuk Wiranto

Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menjemput seorang terduga teroris jaringan Abu Zee dan Abu Rara di Bandar Lampung, Minggu (13/10/2019) sekitar pukul 07.00 WIB.

Pria dengan inisial NAS (45) ini menyerahkan diri ke kantor Khilafatul Muslimin saat sedang menjenguk anak di Bandar Lampung.

NAS sendiri tinggal di daerah Bekasi, Jawa Barat.

Diketahui, Abu Zee merupakan orang yang menikahkan penyerang Menko Polhukam Wiranto yakni, Abu Rara dan Fitri Andriana.

Abu Zee juga pimpinan kelompok JAD Bekasi.

Sementara Abu Rara sendiri merupakan penyerang utama Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019).

Densus 88 jemput terduga teroris jaringan Abu Zee di Lampung. Tribunlampung.co.id/Hanif Mustafa
Densus 88 jemput terduga teroris jaringan Abu Zee di Lampung. Tribunlampung.co.id/Hanif Mustafa (.ribunlampung.co.id/Hanif Mustafa)

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, NAS terlibat dalam kelompok media sosial pendukung ISIS atau Daulah.

Dia juga diketahui berbaiat kepada Al Baghdadi bersama dengan kelompok Abu Zee.

"Dia berbaiat kepada Al Baghdadi bersama dengan kelompok Abu Zee. Bahkan, dia juga pernah membahas tentang khilafah bersama dengan kelompok Abu Zee," kata Argo, Minggu.

Argo mengungkapkan, NAS juga merupakan ustaz dari organisasi bernama Khilafatul Muslimin.

"(Yang bersangkutan) merupakan ustaz dari Khilafatul Muslimin," ujar Argo.

Saat penggeledahan kontrakan NAS di daerah Tambun, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019), polisi menemukan sejumlah barang bukti terkait ISIS di antaranya buku panduan jihad, delapan dabiq buku ISIS, sebuah buku Al Khilafah.

Jumat lalu, polisi juga menangkap terduga teroris anggota kelompok Abu Zee, berinisial TH di sebuah rumah di Jalan Bambu Larangan, Cengkareng, Jakarta Barat.

Polisi mengumpulkan sejumlah barang bukti, yakni cairan kimia, bahan peledak, anak panah, busur panah, senjata rakitan, senjata angin, buku panduan, dan arang dari rumah terduga teroris di Jamblang Cirebon. Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Polisi mengumpulkan sejumlah barang bukti, yakni cairan kimia, bahan peledak, anak panah, busur panah, senjata rakitan, senjata angin, buku panduan, dan arang dari rumah terduga teroris di Jamblang Cirebon. Tribun Jabar/Hakim Baihaqi (Tribun Jabar/Hakim Baihaqi)

Dalam penggerebekan di kediaman TH, polisi menemukan sejumlah barang bukti, termasuk dua buah bendera, satu ikat kepala, dua topi, dan satu lembar foto pahlawan pembela Islam.

Mereka juga menemukan tujuh buah buku, tiga bundel catatan, delapan kertas catatan ISIS, serta sebilah pisau lipat di dalam tas selempang hitam yang digunakan TH.

Sementara pimpinan Khilafatul Muslimin di Bandar Lampung, Khalifah Abdul Baraja mengakui, jika ada salah satu jamaah berinisial NAS dibawa oleh Densus 88.

"Ya, dicurigai. Awalnya kami dapat informasi, dan namanya disebut, maka saya panggil, dan tadi dibawa oleh polisi," terangnya.

Sejumlah petugas saat melakukan penggeledahan rumah terduga teroris di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Minggu (13/10/2019) malam
Sejumlah petugas saat melakukan penggeledahan rumah terduga teroris di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Minggu (13/10/2019) malam (Tribun Jabar/Ahmad Imam Baehaqi)

Khalifah Abdul Baraja pun membantah jika NAS menyerahkan diri, namun lebih tepatnya memberi keterangan ke pihak berwajib.

"Yang bersangkutan tidak tahu apa-apa, dan dia tidak merasa pelarian," tuturnya.

"Jadi kecurigaan ini karena memang dia (NAS) aktif di Medsos, di Facebook, dan sering berbalas komentar dengan (terduga teroris) yang (diamankan) di Jakarta," terangnya.

Selengkapnya di sini:

(TribunJakarta/Kompas/TribunLampung)

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved