Aparat Polres Tangsel Garebek Toko Penjual Materai Daur Ulang dan Ringkus Pembuatnya

Ipda Agam Tsaani Rachmat, yang memimpin operasi itu langsung mencirikan bekas coretan di materai yang dijual, berbeda dengan materai asli.

Aparat Polres Tangsel Garebek Toko Penjual Materai Daur Ulang dan Ringkus Pembuatnya
ISTIMEWA
Proses pembuatan materai daur ulang di Setu, Tangsel, Selasa (15/10/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SETU - Aparat Polres Tangerang Selatan (Tangsel) berhasil menguak sindikat pembuat materai daur ulang.

Bermula dari laporan masyarakat, tim Resmob Satreskrim Polres Tangsel mendapati satu toko fotokopi dan penjual alat tulis kantor (ATK) di dekat Kampus Institut Teknologi Indonesia (ITI), Jalan Pispiptek, Setu, Tangsel yang menjual materai daur ulang.

Ipda Agam Tsaani Rachmat, yang memimpin operasi itu langsung mencirikan bekas coretan di materai yang dijual, berbeda dengan materai asli.

Polres Pelabuhan Tanjung Priok Ungkap Materai Palsu yang Dijual Lewat Online Shop

Sang penjual, Endun (37), pun memberi tahu Agam dari siapa dan dari mana ia mendapatkan materai bekas yang sudah "disulap" itu.

Endun memberi tahu lokasi pembuatan materai itu di bilangan Jampang, Bogor.

Tim Resmob pun langsung menahan Endun dan memintanya menunjukkan lokasi pembuatan.

Lokasi diketahui, alhasil Doni Hadidas (39), si penyulap daur ulang materai itupun turut diringkus.

Di tempat pembuatan itu juga didapati banyak sobekan kertas yang terdapat materainya. Kertas tersebut didapatkan dari tempat rongsok hingga kantor-kantor.

Endun dan Doni pun digelandang ke Mapolres Tangsel untuk penyelidikan lebih lanjut.

Selain dua orang itu, masih ada dua orang lain yang masih dalam pengejaran, atas inisial nama: DR (29) dan OP (27).

Kepada, awak media, Agam menjelaskam operasi yang berhasil menangkap sindikat daur ulang materai itu.

"Jadi materai itu dibersihkan sedemikian rupa, tanda tangannya dibersihkan, dibuat serapih mungkin kemudian ditempelkan kembali agar menyerupai dengan aslinya," ujar Agam.

"Kalau kita beli di kantor pos seharga Rp 6.000 dia menjual seharga Rp 3.000 lebih murah," tambahnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved