Tak Niat Serang Pemerintah, Aktivis Papua Nilai Bendera Bintang Kejora Bagian Budaya

Anggota Tim Advokasi Papua Michael Hilman menilai bendera bintang kejora merupakan bagian dari budaya.

Tak Niat Serang Pemerintah, Aktivis Papua Nilai Bendera Bintang Kejora Bagian Budaya
TRIBUNJAKARTA.COM/Annas Furqon Hakim
Tim Advokasi Papua mengajukan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (22/10/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim

TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR MINGGU - Anggota Tim Advokasi Papua Michael Hilman menilai bendera bintang kejora merupakan bagian dari budaya.

Karenanya, ia berharap pengibaran bendera bintang kejora tidak diartikan sebagai tindakan makar.

"(Bendera) bintang kejora ini adalah bagian dari budaya Papua. Jangan dipolitisir sebagai makar," kata Michael di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pasar Minggu, Selasa (22/10/2019).

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menangkap enam aktivis Papua pada 30 dan 31 Agustus 2019.

Surya Anta, Charles Kossay, Dano Tabuni, Isay Wenda, Ambrosius Mulait dan Arina Elopere dianggap melakukan makar lantaran mengibarkan bendera bintang kejora saat aksi demonstrasi di depan Istana Negara, 28 Agustus 2019.

Namun, menurut Michael, kliennya sama sekali tidak memiliki niat untuk menggulingkan pemerintah.

"Tidak ada niat melakukan penyerangan terhadap pemerintah. Jadi, aksi mereka bukan untuk memisahkan diri," ujar dia.

Selain itu, sambungnya, keenam mahasiswa yang kini ditahan di Mako Brimob, Depok, itu juga masih mengakui bendera Merah Putih sebagai bendera nasional.

"Itu kan hanya bendera. Bendera Merah Putih tetap lebih tinggi," ucap Michael.

Halaman
1234
Penulis: Annas Furqon Hakim
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved