Breaking News:

Sulit Air Bersih, Omzet Peternak Ikan Hias di Jakarta Timur Anjlok 50 Persen

Kesulitan air bersih yang dirasakan warga Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung selama tiga bulan terakhir membuat pelaku usaha merugi.

Penulis: Bima Putra
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Rodi saat menunjukkan kolam ikan hias ternaknya di Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (25/10/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPAYUNG - Keringnya sumur yang berujung pada kesulitan air bersih yang dirasakan warga Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung selama tiga bulan terakhir membuat pelaku usaha merugi.

Rodi (42), warga RT 02/RW 03 Kelurahan Bambu Apus mengatakan omzet usaha ternak ikan hiasnya merosot sekitar 50 persen karena kesulitan air bersih.

"Sekitar 40 sampai 50 persen lah ruginya. Karena kalau enggak ada air itu dampaknya banyak. Air untuk kolam ikan kan harus rutin diganti, biar enggak kotor," kata Rodi di Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (25/10/2019).

Rodi saat menunjukkan kolam ikan hias ternaknya di Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (25/10/2019).
Rodi saat menunjukkan kolam ikan hias ternaknya di Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (25/10/2019). (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Setiap 10 hari, air untuk 15 kolam ikan hias milik Rodi sebenarnya harus diganti guna kelancaran pertumbuhan dan kesehatan ikan hias ternaknya mati.

Namun keringnya sumur membuat dia tak bisa mengganti air kolam sehingga ikan ternakannya mati terdampak air kolam yang kotor.

"Bisa hampir satu kolam pada mati semuanya, satu kolam itu bisa 1.000 sampai 2.000 ekor. Mati karena sakit air kolamnya kotor," ujarnya.

Tak hanya merugi karena ikan hias ternaknya mati, waktu panen ikan Lohan, Memphis, Gupi, dan ikan hias ternak lainnya ikut melambat karena air kotor.

Pascakerusuhan, Pos Polisi di Jalan Gerbang Pemuda Mulai Diperbaiki

Maling Bersenjata Api Beraksi di Jalan Raya Pekapuran Kota Depok

Bila dalam satu bulan biasanya sudah panen, kini Rodi butuh waktu dua bulan lebih sebelum dapat dijual ke distributor ikan hias.

"Kalau kekeringan seperti ini saya enggak bisa isi kolam sampai penuh, airnya cetek. Itu berpengaruh ke pertumbuhan ikan, jadi lama. Biasanya satu bulan panen bisa Rp 1 sampai Rp 2 juta," tuturnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved