Modus Tangkal Santet: Bapak di Tangerang Ini Perkosa dan Suruh Anaknya Minum Sperma

Tak hanya memperkosa, Junaidi juga menyuruh anaknya untuk meminum air sperma hasil perkosaan itu.

Modus Tangkal Santet: Bapak di Tangerang Ini Perkosa dan Suruh Anaknya Minum Sperma
TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir
Junaidi (38) tersangka kasus pemerkosaan terhadap anak sendiri, di Mapolres Tangsel, Jalan Promoter, Serpong, Senin (28/10/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Entah apa yang ada di benak Junaidi (38), ia tega memperkosa anaknya sendiri, NK (16) selama selama setahun hingga hamil.

Tak hanya memperkosa, Junaidi juga menyuruh anaknya untuk meminum air sperma hasil perkosaan itu.

Kapolres Tangerang Selatan (Tangsel), AKBP Ferdy Irawan, mengatakan, Junaidi bisa memperkosa dan meminumkan air sperma itu dengan modus untuk menghilangkan santet atau teluh yang ada di tubuh anaknya.

Tentu santet tersebut hanya mengada-ada demi dia bisa melancarkan nafsu bejatnya.

"Jadi itu modus, setelah pelaku melakukan perbuatan tersebut, menurut keterangan dari pada korban, sperma dari pada pelaku dielap kemudian diperas menggunakan aor dimasukkan ke dalam botol, korban disuruh minum sebagai penangkal teluh," ujar Ferdy didampingi Kasat Reskrim Polres Tangsel AKP Muharram Wibisono Adipradono, saat gelar rilis kasus tersebut di Mapolres Tangsel, Jalan Promoter, Serpong, Senin (28/10/2019).

Junaidi sudah berpisah dengan istrinya. Ia tinggal besama NK di rumahnya di bilangan Sukabakti, Curug, Kabupaten Tangerang.

Persetubuhan itu dilakukan berulang-ulang dan tidak terhitung berapa kali.

Rosa Meldianti Disebut Pakai Susuk Sebagai Penarik, Begini Penjelasan Sang Ibunda

7 Bulanan Ahok & Puput Nastiti Devi: Istri BTP Jualan Dawet, Nico Datang dan Tulis Pesan Begini

Sebut Jefri Nichol Korban dan Tidak Kecanduan Narkoba, Penasihat Hukum Minta Kliennya Dirawat Jalan

Kejadian itu ketahuan karena NK hamil dan mulai mengundang kecurigaan mantan istri atau ibu NK.

Setelah dilaporkan, Junaidi pun ditangkap dan dijerat pasal 81 Undang-undang nomor 35 tahun 2014 atas perubahan Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

"Hukuman penjara maksimal 15 tahun," ujarnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved