DPRD DKI Minta Dinas LH Segera Telusuri Dugaan Penggunaan Cat Bertimbal di Taman Bermain Anak

Pasalnya, kandungan timbal itu bisa menyebabkan keracunan hingga menghambat tumbuh kembang anak.

TribunJakarta.com/Suci Febriastuti
ILUSTRASI Taman bermain di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis (20/9/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Anggota DPRD DKI asal Fraksi Gerindra Syarif meminta Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta segera menelusuri temuan pemerhatian lingkungan Nexus3 soal penggunaan cat mengandung timbal di sejumlah taman bermain anak.

Pasalnya, kandungan timbal itu bisa menyebabkan keracunan hingga menghambat tumbuh kembang anak.

Komite Penghapusaan Bensin Bertimbal Gandeng BPTJ Urus Pencemaran Udara di Jakarta

"Ini Dinas Lingkungan Hidup harus turun tangan karena barang-barang itu sangat berbaya untuk anak," ucapnya, Selasa (29/10/2019).

Tak hanya itu, menurutnya, kandungan zat kimia berbahaya itu juga bisa merusak kandungan tanah di sekitarnya.

Untuk itu, Syarif pun meminta Dinas LH DKI Jakarta untuk mengambil sampel tanah di lokasi taman bermain ini untuk diteliti lebih lanjut.

"Sampel tanah sebaiknya juga diperiksa, ada pengaruhnya juga enggak," ujarnya.

Sebelumnya, penggiat lingkungan dari Yayasan Nexus3 mendapati 20 taman umum dan 12 taman bermain anak di Taman Kanak-kanak (TK) yang masih memakai cat bertimbal.

Puluhan sarana bermain itu berada di lima lokasi DKI Jakarta dan terungkap setelah peneliti menganalisis memakai X-Ray Fluorescence (X-RF).

"Tingginya kadar timbal yang terdeteksi pada cat peralatan bermain di luar ruangan sangat mengkhawatirkan dan tidak dapat diterima dari aspek kesehatan," kata Peneliti Senior dari Nexus3, Yuyun Ismawati berdasarkan rilis yang diterima pada Rabu (23/10/2019).

Yuyun mengatakan, seiring dengan frekuensi penggunaannya berulang kali serta paparan sinar matahari dan hujan, cat pada permainan akan memudar.

Kondisi ini akan menyebabkan cat terkelupas dan bercampur dengan debu dan tanah, yang dapat masuk ke dalam tubuh anak-anak melalui perilaku tangan ke mulut.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved