Sidang Perdana Kasus Polisi Tembak Mati Polisi di Depok, Terdakwa Mengaku Khilaf

Kasus Polisi tembak mati Polisi di Polsek Cimanggis, Kota Depok, mulai memasuki meja hijau.

Sidang Perdana Kasus Polisi Tembak Mati Polisi di Depok, Terdakwa Mengaku Khilaf
TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma
Suasana persidangan kasus polisi tembak mati polisi dengan pelaku RT di PN Depok, Rabu (30/10/2019). 

"Saya juga menyampaikan kepada kepala satuannya masing-masing untuk mencoba mengevaluasi kembali kepada pemegang senjata api ini khususnya dalam pemeriksaan psikologinya sehingga anggota tidak mudah emosional ya," ungkap Gatot.

Andaikan Bripka Rachmat Effendy tak amankan pelaku tawuran

Bripka Rachmat Effendy (kiri) dan Brigadir Rangga Tianto
Bripka Rachmat Effendy (kiri) dan Brigadir Rangga Tianto (istimewa)

Bukan tanpa maksud Bripka Rachmat Effendy mengamankan pelaku tawuran berinisial FZ ke Mapolsek Cimanggis, Kamis (25/7/2019) malam lalu.

Hal itulah yang memicu Bripka Rachmat Effendy ditembak tujuh peluru oleh Brigadir Rangga Tianto, di Ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Cimanggis.

Dilansir dari Warta Kota, Brigadir Rangga Tianto adalah paman FZ yang tak terima FZ ditahan di Polsek Cimanggis.

Sebab, Bripka Rachmat Effendy menolak permintaan Bripka Rangga Tianto untuk membawa FZ pulang.

Saat mengamankan FZ berikut barang bukti celurit ke Polsek Cimanggis, Kamis malam, Bripka Rachmat Effendy sempat memostingnya di Grup WA rekan kerjanya di Subdit Regident Ditlantas Polda Metro Jaya.

Hal itu diungkapkan Kepala Subdit Regident Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Sumardji, atasan langsung Bripka Rachmat Effendy.

"Karena itu saya sempat tanya ke Rachmat Effendy bagaimana bisa tawuran dan kenapa diamankan ke kantor polisi," kata Sumardji kepada Wartakotalive, Sabtu (27/7/2019).

Saat itu, kata Sumardji, ada sejumlah tujuan dan alasan yang dikatakan Bripka Rachmat Effendy kepadanya.

Pertama, katanya, Rachmat Effendy ingin mengamankan atau menyelamatkan si pelaku tawuran itu dari amukan warga yang kesal dan marah.

"Kalau anak itu tidak dibawa Rachmat Effendy ke Polsek Cimanggis, dia bisa dikeroyok dan dihajar massa atau warga di sana," ungkap Sumardji.

Kalau si pelaku tawuran itu tidak diamankan dan dibawa Bripka Rachmat Effendy ke Polsek Cimanggis, papar Sumardji, ia bisa dihajar massa dan warga di sana.

Karena, warga sudah geram dan kesal dengan aksi tawuran sekelompok anak muda itu.

"Silakan Anda cek ke lapangan, karena ini fakta yang terjadi sebelumnya," cetus Sumardji.

Kedua, lanjut Sumardji, Bripka Rachmat Effendy ingin memberi rasa aman ke masyarakat, sekalIgus memberikam pelajaran dan pemahaman ke warga.

Bahwa, tawuran yang membahayakan keselamatan orang lain akan ditindak polisi.

"Jadi dia mengamankan pelaku karena membela kepentingan dan keamanan warga, serta memberikan pemahaman sebagai bentuk pembinaan," jelas Sumardji.

Dan yang terakhir, kata Sumardji, Bripka Rachmat Effendy ingin memberi pelajaran berarti ke pelaku dengan efek jera.

"Supaya pelaku tidak mengulangi perbuatannya. Itu juga bentuk pembinaan yang mau disampaikan Bripka Rachmat Effendy," terang Sumardji.

Namun sayangnya, kata Sumardji, Brigadir Rangga Tianto tidak memahami hal itu dan tersulut emosi.

Apalagi, Brigadir Rangga Tianto merasa dan menilai penolakan Bripka Rachmat Effendy untuk mengembalikan FZ ke keluarga, disampaikan dengan nada tinggi atau nada bicara keras.

Sehingga, akhirnya Brigadir Rangga Tianto memberondong Bripka Rachmat Effendy dengan tujuh tembakan hingga tewas di lokasi kejadian.

"Karenanya di balik peristiwa ini, sebenarnya ada tujuan dan maksud yang baik dari Bripka Rachmat Effendy," ucap Sumardji.

Firasat Istri

Sumardji menuturkan, ternyata ada firasat cukup kuat yang dirasakan istri korban, sebelum suaminya meninggal.

Sang istri sempat mengingatkan dan meminta Bripka Rachmat Effendy, agar malam itu tak keluar rumah seperti biasanya, sehabis pulang bekerja.

Sebagai Ketua Pokdarkamtibmas di wilayahnya, Bripka Rachmat Effendy memang cukup aktif menyempatkan waktu memantau situasi wilayahnya di malam hari.

Sumardji mengaku telah menemui istri dan keluarga Bripka Rachmat Effendy di rumahnya di Tapos, Depok, untuk menyampaikan belasungkawa, pada Jumat (26/7/2019) pagi.

Dalam kesempatan itu, kata Sumardji, istri Bripka Rachmat Effendy menceritakan kepadanya soal firasat itu.

Menurutnya, sang istri mengaku memiliki perasaan tak enak, saat Bripka Rachmat Effendy hendak keluar rumah pada Kamis malam.

Saat itu Rachmat Effendy menindaklanjuti laporan warga mengenai adanya tawuran di Lapangan Sanca, Tapos, Depok.

Ia kemudian berupaya membubarkan tawuran itu, Kamis malam.

"Istrinya sempat melarang Bripka Rachmat Effendy keluar rumah. Karena perasaannya enggak enak, seperti firasat."

"Makanya istrinya minta Bripka Rachmat Effendy tak usah dulu ikut membubarkan tawuran pemuda," beber Sumardji.

Namun, kata Sumardji, sebagai Ketua Pokdarkamtibmas dan keinginan Bripka Rachmat Effendy yang selalu ingin berbuat sesuatu untuk warga, permintaan istrinya tak diindahkan.

Hingga akhirnya Bripka Rachmat Effendy ditembak Brigadir Rangga Tianto karena cekcok terkait diamankannya satu pelaku tawuran, Yakni FZ.

Posting Foto

Foto dan pesan yang diposting Bripka Rachmat Effendy sesaat sebelum penembakan, adalah foto keberhasilan Bripka Rachmat Effendy mengamankan satu pelaku tawuran di wilayahnya di Cimanggis.

Turut pula dipostingnya senjata tajam berupa celurit yang berhasil ia sita dari si pelaku tawuran.

Dalam postingannya itu, Bripka Rachmat Effendy menuliskan pesan, akan membawa pelaku tawuran dan celurit yang diamankannya ke Mapolsek Cimanggis.

Sebab, perbuatan para pelaku tawuran sangat membahayakan dan meresahkan warga.

"Jadi beberapa saat sebelum kejadian ditembak, Bripka Rachmat Effendy sempat posting foto amankan pelaku tawuran dan foto celurit yang disita," kata Sumardji.

Postingan Bripka Rachmat Effendy, katanya, selalu disambut komentar positif dan salut dari rekan kerja di grup WA.

Mereka angkat topi terhadap Rachmat Effendy yang sangat antusias mengamankan warga dan masyarakat di wilayahnya.

"Bukan sekali ini dia posting giat sebagai Ketua Pokdar. Cukup sering juga."

"Makanya kita salut sama almarhum yang rela setelah pulang kantor malamnya aktif jadi angggota Pokdar monitor wilayahnya," beber Sumardji.

Menurut Sumardji, Bripka Rachmat Effendy dikenal sebagai sosok yang memilIIiki integritas tinggi dalam melayani, mengayomi, dan membina masyarakat.

Selama bertugas di Subdit Regident Ditlantas Polda Metro Jaya sebagai staf bagian penomoran kendaraan, kataSumardji, tak ada hal negatif atau catatan buruk yang dilakukan almarhum.

"Jadi saya tahu benar keseharian dia, karena saya atasannya langsung."

"Rachmat Effendy ini punya rasa tanggung jawab besar dan disiplin dalam bekerja."

"Dia punya integritas tinggi dalam pekerjaannya. Dikasih pekerjaan apa pun pasti selesai. Ibadah dan salatnya juga bagus."

"Karena Rachmat Effendy ini kan lama di Brimob. Dia bertugas di Ditlantas baru sekitar sejak 2015 lalu" ungkap Sumardji.

Bripka Rachmat Effendy diakui Sumardji adalah sosok yang rajin dan memiliki kemauan serta keinginan untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat banyak.

"Mengenai keinginan almarhum untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat ini, bukan hanya omongan saja."

"Contoh dan buktinya dia mau menjadi Ketua Pokdarkamtibmas di Kecamatan Cimanggis di mana ia tinggal," kata Sumardji.

Karenanya, kata Sumardji, sehabis bekerja di Subdit Regident Ditlantas Polda Metro Jaya, malam harinya Rachmat Effendy pasti menyempatkan diri memantau lingkungannya sebagai Ketua Pokdarkamtibmas.

"Sebagai Ketua Pokdarkamtibmas, Rachmat Effendy ini betul-betul aktif sekali. Ia sangat menjaga lingkungan dan membela masyarakat di tempat tinggalnya."

"Kenapa saya tahu? Karena Rachmat Effendy ini cukup sering posting di grup WA staf Regident, beberapa aktifitasnya jadi Pokdarkamtibmas seusai pulang kerja," papar Sumardji.

Menurutnya, karena kemauan dan keinginan yang kuat berbuat bagi masyarakat, Rachmat Effendy rela melakukan kerja ekstra sebagai Pokdarkamtibmas seusai pulang kantor.

"Kalau tak punya kemauan dan keinginan berbuat bagi masyarakat, enggak mungkin dia mau capek-capek pulang kantor lalu malamnya kerja ekstra lagi sebagai pokdar," ulas Sumardji.

Karenanya, kata Sumardji, apa yang dilakukan Bripka Rachmat Effendy patut mendapat apresiasi dari masyarakat, atau paling tidak dicontoh.

"Dia benar-benar sosok polisi yang mau berbuat bagi masyarakat, terutama dalam menjaga keamanan dan ketertiban warga."

"Itu makanya dia sempat mengamankan pelaku tawuran yang membawa celurit sebelum jadi korban penembakan," papar Sumardji.

Sebagai Ketua Pokdarkamtibmas, Bripka Rachmat Effendy selalu turun langsung ke lapangan jika ada keributan, atau ketika dilapori warga ada tawuran atau keributan lain di wilayahnya.

"Ini yang patut dicontoh dari almarhum. Ia selalu ingin mengabdikan dirinya bagi masyarakat," kata Sumardji.

Dengan peristiwa ini, kata Sumardji, ia sangat kehilangan salah satu anak buah terbaiknya.

"Kami di Subdit Regident sangat kehilangan sosok Bripka Rachmat Effendy yang memiliki idealisme melayani masyarakat dalam bekerja," ucapnya.

Juga, ia dan jajarannya mengaku sangat berduka cita yang mendalam atas meninggalnya Bripka Rachmat Effendy. (WartaKota/Budi Sam Law Malau/Kompas.com/Rindi Nuris Velarosdela)

Penulis: Dwi putra kesuma
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved