Maman, Pedagang Usia 55 Tahun yang Tetap Bekerja Meski Sakit, Anak Bungsunya Masih SD & Perlu Biaya

Jika boleh memilih, Maman warga Sukabumi ini ingin sekali beristirahat di rumah dan menghabiskan waktunya bersama istri dan anak-anaknya.

Maman, Pedagang Usia 55 Tahun yang Tetap Bekerja Meski Sakit, Anak Bungsunya Masih SD & Perlu Biaya
TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Maman, penjual mainan bambu dan kue keliling di Jakarta Selatan, Senin (4/11/2019) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR MINGGU - Masih memiliki anak yang duduk dibangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD), memaksa Maman Bin H Japar (55) tetap berjualan keliling.

Jika boleh memilih, Maman warga Sukabumi ini ingin sekali beristirahat di rumah dan menghabiskan waktunya bersama istri dan anak-anaknya.

Hanya saja, anak bungsunya yang masih sekolah mengharuskannya tetap bekerja sebagai pedagang kue maupun mainan keliling.

"Saya merantau ke Jakarta sejak tahun 1982. Bolak-balik kampung ke Jakarta aja. Dari dulu apa aja saya jualin, mulai dari telur goreng keliling, kue, hingga sekarang mainan bambu atau pletokan gini karena anak bungsu saya masih sekolah dan butuh biaya," ucapnya saat ditemui di depan MI Sirojul Muslimin, Jalan Swadaya I, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (4/11/2019).

Dulunya, Maman berjualan keliling menggunakan gerobak. Hanya saja gerobak tersebut dijualnya untuk menambah biaya pernikahan anak pertama dan keduanya.

"Anak saya sudah besar dan kerja semua. Tinggal yang kecil aja ini. Makanya kalau yang ini (kecil) enggak sekolah, saya maunya di rumah aja. Biar bagaimana pun saya punya kewajiban kan nafkahin dia juga," sambungnya.

Segala pekerjaan selalu dikerjakan oleh Maman karena ia berkeinginan memasukan anak bungsunya di pesantren dan ke taman baca Al Quran untuk menghantam ayat suci tersebut.

Saat ini, Maman lebih memilih untuk berjualan mainan bambu yang dibuatnya sendiri dan dijual seharga Rp 2 ribu sampai Rp 20 ribu.

"Ya sekarang lagi jualan pletokan dulu. Ini sudah ada 2 minggu. Karena kalau jualam kue capek mikulnya makanya diseling jualan mainan dulu. Jadi bambunya saya bawa dari kampung dan buat di sini. Alhamdulillah buat makan aja cukup. Paling sedikit banget saya dapat Rp 40 ribu," ungkapnya.

Halaman
1234
Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Siti Nawiroh
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved