Kisah Haru Supriyadi Pemijat Tunanetra di Solo, Kenangan Era Presiden Soeharto Hingga Tamu Tak Bayar

Seorang penyedia jasa pijat tunanetra di Solo yang berasal dari NTB, Muhammad Syukri (48) atau akrab disapa Supriyadi menyimpan kisah haru.

Kisah Haru Supriyadi Pemijat Tunanetra di Solo, Kenangan Era Presiden Soeharto Hingga Tamu Tak Bayar
TribunSolo.com/Adi Surya
Supriyadi berada di indekosnya seharga Rp 230 per bulan. 

TRIBUNJAKARTA.COM, SOLO - Seorang penyedia jasa pijat tunanetra di Solo yang berasal dari Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Syukri (48) atau akrab disapa Supriyadi menyimpan kisah haru.

Dia telah menggeluti profesinya itu hampir 30 tahun atau lebih tepatnya sejak berusia 20 tahun.

Karena tidak bisa melihat, dia lantas menggunakan 'petunjuk' atau papan bertuliskan 'Jasa Pijat Capek/Refleksi' agar calon pelanggannya mengetahuinya, karena dia berjalan dari hotel ke hotel.

Supriyadi menceritakan, awalnya profesi penyedia jasa pijat digelutinya semenjak ia pindah sekolah dari NTB ke Solo.

"Sebenarnya gak langsung ke situ (penyedia jasa pijat), berangkat dari NTB sebenarnya," ujar Supriyadi kepada TribunSolo.com saat ditemui di indekosnya Ali Atmojo Jalan Trisula 3 RT 4 RW III, Kauman, Solo, Kamis (7/11/2019).

Ya, kisah karier penyedia jasa pijat diawali Supriyadi dari tanah kelahirannya, Lombok Barat.

Faktor ekonomi dan ketidaksukaan keluarga terhadap dirinya membuat harus banting tulang menghidupi dirinya sendiri.

Terlebih lagi, ia mengalami kebutaan saat menginjak usia sekitar 8 tahun dan membuatnya tidak bisa mengenyam pendidikan.

"Saya buta (tidak melihat) waktu udah besar, dari kecil gak bisa mendapatkan pendidikan umum, saya gak bisa sekolah," tutur dia.

Seorang penyedia jasa pijat tunanetra asal Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Syukri atau Supriyadi mencoba mengalungkan penanda penyedia jasa pijat di kosnya, Jalan Trisula 3 RT 4 RW III, Kauman, Solo, Kamis (7/11/2019).
Seorang penyedia jasa pijat tunanetra asal Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Syukri atau Supriyadi mencoba mengalungkan penanda penyedia jasa pijat di kosnya, Jalan Trisula 3 RT 4 RW III, Kauman, Solo, Kamis (7/11/2019). (TribunSolo.com/Adi Surya)

"Saya nyari SLB, tapi SLB di Lombok belum sepadan dengan di Jawa waktu itu," imbuhnya membeberkan.

Halaman
1234
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved