Hakim Putuskan Sidang Mediasi Orangtua Murid dan SMA Kolese Gonzaga Digelar 30 November 2019

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan sidang mediasi antara orangtua murid dan SMA Kolese Gonzaga digelar pada 30 November 2019.

Hakim Putuskan Sidang Mediasi Orangtua Murid dan SMA Kolese Gonzaga Digelar 30 November 2019
TribunJakarta.com/Annas Furqon Hakim
Persidangan gugatan perdata antara orangtua murid melawan SMA Kolese Gonzaga di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pasar Minggu, Senin (11/11/2019). 

Pada perkara ini, Yustina menggugat Kepala SMA Kolese Gonzaga Paulus Andri Astanto, Wakil Kepala Sekolah (Wakepsek) Bidang Kurikulum Himawan Santanu, Wakepsek Bidang Kesiswaan Gerardus Hadian Panamokta, dan guru Sosiologi Kelas XI Agus Dewa Irianto.

Ia pun turut menggugat Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Provinsi DKI Jakarta.

Yustina juga meminta Hakim menghukum para tergugat dengan membayar ganti rugi materil Rp 51,683 juta dan imateril Rp 500 juta.

Fakta-fakta Orangtua Gugat SMA Gonzaga, Sekolah Beberkan Penyebab Sang Anak Tak Naik Kelas

Beberapa hari lalu, seorang wali murid melayangkan gugatan kepada SMA Gonzaga di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, lantaran siswanya tak naik kelas.

Kasus yang terjadi di SMA Kolese Gonzaga di Jalan Pejaten Barat Kelurahan Ragunan Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan, menarik perhatian publik.

Seorang ibu bernama Yustina Supatmi melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena sang anak tidak naik ke kelas XII.

Dilansir dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (SIPP PN Jaksel), Yustina resmi mendaftarkan perkaranya tanggal 1 Oktober 2019.

Gugatan orang kepada SMA Kolese Gonzaga Jakarta Selatan karena anaknya tidak naik kelas.
Gugatan orang kepada SMA Kolese Gonzaga Jakarta Selatan karena anaknya tidak naik kelas. (Pengadilan Negeri Jakarta Selatan)

Berdasarkan informasi perkara yang dipublikasi tersebut, perkara itu mengantongi nomor 833/Pdt.G/2019/PN JKT.SEL.

Yustina mengguat Kepala Sekolah SMA Kolese Gonzaga, Pater Paulus Andri Astanto.

Selain itu, ikt digugat pula Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Himawan Santanu Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Gerardus Hadian Panomokta dan guru Sosiologi Kelas XI, Agus Dewa Irianto.

Bahkan Kepala Dinas Pendidikan Menengah Dan Tinggi Provinsi DKI Jakarta juga menjadi pihak yang turut tergugat.

Setelah didaftarkan, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, mengabulkan gugatan Yustina untuk disidangkan.

Balita Peluk Ibunya yang Sudah Meninggal Selama 3 Hari, Tetangga: Ada Tangisan Anak & Bau Tak Sedap

Dalam petitum atau pokok tuntutannya, Yustina dan kuasa hukumnya menyatakan para tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum terhadap penggugat.

Keputusan para tergugat bahwa anak penggugat yang tidak berhak melanjutkan proses belajar ke jenjang kelas 12 SMA Kolese Gonzaga adalah cacat hukum.

Selain itu, menyatakan anak penggugat memenuhi syarat dan berhak untuk melanjutkan proses belajar ke jenjang kelas 12 di SMA Kolese Gonzaga.

Dirangkum TribunJakarta.com, ada sejumlah fakta terkait kejadian ini, berikut fakta-faktanya.

1. Minta Ganti Rugi Rp 500 Juta Lebih

Dalam tuntutannya, Yustina meminta ganti rugi kepada para tergugat sebagai bentuk tanggung jawab kepada dia dan anaknya.nteng kepadanya.

"Ganti rugi materiil sebesar Rp. 51.683.000,- (Lima puluh satu juta enam ratus delapan puluh tiga ribu rupiah)," ujar Yustina dalam gugatannya.

"Ganti rugi immateril sebesar Rp.500.000.000.-(Lima ratus juta rupiah)," sambungnya.

"Menyatakan sah dan berharga sita jaminan terhadap aset para tergugat berupa tanah dan bangunan Sekolah Kolese Gonzaga Jalan Pejaten Barat 10A, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta, dan atau harta kekayaan PARA TERGUGAT lainnya baik benda bergerak dan atau benda tidak bergerak lainnya yang akan disebutkan kemudian oleh PENGGUGAT," lanjutan.

"Menghukum TURUT TERGUGAT untuk tunduk dan patuh terhadap putusan perkara ini; Menghukum PARA TERGUGAT untuk membayar seluruh biaya perkara yang timbul dalam perkara ini," tandasnya.

Viral Video Teknisi Tersetrum di Atap Bilik ATM, Korban Jatuh Terpental, Polisi Masih Selidiki

2. Sidang Ditunda

Sidang gugatan perdata orangtua murid kepada SMA Kolese Gonzaga digelar perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (4/11/2019).

Sidang hari ini beragenda pemanggilan pihak tergugat.

Dalam sidang yang berlangsung pada pukul 10.50 WIB ini, Edi Danggur selaku kuasa hukum pihak tergugat SMA Kolese Gonzaga, Kepala Seksi Peserta Didik dan Pengembangan Karakter Peserta Didik Disdik DKI Jakarta Taga Radja Gah, diketahui hadir memenuhi pemanggilan.

Persidangan gugatan perdata orangtua murid terhadap SMA Kolese Gonzaga di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (4/11/2019).
Persidangan gugatan perdata orangtua murid terhadap SMA Kolese Gonzaga di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (4/11/2019). (TribunJakarta/Annas Furqon Hakim)

Begitu pula dari pihak penggugat, Susanto selaku kuasa hukum orangtua murid juga telah hadir.

Namun, sidang akhirnya ditunda lantaran kuasa hukum Disdik DKI Jakarta tidak membawa surat kuasa atas kliennya.

Karena itu hakim menunda sidang dan akan dilanjutkan kembali pada 11 November 2019 mendatang.

"Sidang ditunda hingga minggu depan karena surat kuasa pihak turut tergugat belum lengkap. Sidang dilanjutkan 11 November," Lenny Wati Mulasimadhi di ruang  sidang.

Kejaksaan Buka 5.203 Formasi CPNS 2019, Lulusan SMA Bisa Mendaftar, Ini Sejumlah Posisi yang Dibuka

3. Alasan Tinggal Kelas

Kepala Seksi Peserta Didik dan Pengembangan Karakter Peserta Didik Disdik DKI Jakarta Taga Radja Gah mengaku telah menerima laporan pihak SMA Kolese Gonzaga terkait alasan tidak menaikkelaskan siswa berinisial BB dari kelas XI  ke XII.

Dari laporan yang diterima Taga, siswa tersebut terhambat masalah nilai yang menjadi syarat untuk bisa naik kelas.

Tampak depan SMA Kolese Gonzaga, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2019).
Tampak depan SMA Kolese Gonzaga, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2019). (TRIBUNJAKARTA.COM/ANNAS FURQON HAKIM)

"Jadi satu mata pelajaran enggak tuntas (nilainya), yaitu sejarah. Peminatan nilainya 68. Seharusnya sesuai kriteria ketuntasan minimal (KKM)-nya 75," ucap dia ketika dikonfirmasi, Rabu (30/10/2019).

Tidak hanya nilai, siswa tersebut juga pernah melanggar peraturan kedisiplinan saat di dalam kelas dan ketika mengikuti kegiatan sekolah di luar kota.

Hal tersebutlah yang menjadi pertimbangan sekolah tidak menaikkelaskan BB.

Namun, Taga mengaku belum mengetahui keterangan versi orangtua siswa.

"Nah rangkaian cerita itulah yang disampaikan ke saya. Barangkali, maaf, dikonfirmasi lagi ke orangtua," ucap dia.

Lebih lanjut, Taga menyayangkan persoalan ini menjadi panjang dan bergulir ke meja hijau.

Dia berharap persoalan ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Hasil PUBG Mobile PMCO SEA League Final, Bigetron RA Wakil Indonesia ke Prelims Global Final

4. Alasan Orangtua Gugat Sekolah

Pihak orangtua murid yang menggugat SMA Kolese Gonzaga mengakui bahwa tidak naik kelas merupakan hal biasa.

Pernyataan itu dilontarkan Arya Andika, kakak siswa berinisial BB sekaligus tim kuasa hukum penggugat.

Masalahnya, kata Arya, proses kenaikan kelas adiknya dinilai cacat hukum.

Itu lah yang mendasari pihaknya mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Kuasa hukum SMA Kolese Gonzaga, Edi Danggur, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pasar Minggu, Senin (4/11/2019).
Kuasa hukum SMA Kolese Gonzaga, Edi Danggur, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pasar Minggu, Senin (4/11/2019). (TribunJakarta/Annas Furqon Hakim)

"Tidak naik kelas memang hal biasa. Tapi proses sampai tidak naik kelas itu yang kami permasalahkan," kata Arya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pasar Minggu, Senin (4/11/2019).

"Proses tidak naik kelasnya itu yang ingin kami uji di persidangan," tambahnya.

PROMO Harbolnas 11.11 di Bukalapak, Diskon 90 Persen hingga Serbu Seru Rp 11

Baim Wong Kepergok Beli Celana Seharga iPhone X, Paula Verhoeven Syok & Beri Reaksi Tak Biasa

Kabar Terkini Dylan Carr Pemain Anak Langit Usai Kecelakaan, Ayah Ungkap Dylan Sudah Bisa Pulang

5. Sang Anak Pindah Sekolah

Kuasa hukum SMA Kolese Gonzaga, Edi Danggur, mengatakan anak Yustina Supatmi yang tak naik kelas berinisial BB sudah pindah sekolah.

Edi menyebut orangtua BB telah mengajukan surat pengunduran diri dari SMA Kolese Gonzaga pada 27 Mei 2019.

"Orangtuanya minta anaknya tidak mau tinggal kelas, lalu minta pindah sekolah," kata Edi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pasar Minggu, Senin (4/11/2019).

"Anak itu sendiri (BB) sudah sekolah di SMA Santo Bellarminus," tambahnya. (*)

Penulis: Annas Furqon Hakim
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved