Disebut Jadi Pengemis Oleh Tetangga di Kampung, Sakhuri Buktikan Bisa Kuliahkan Anak dan Beli Rumah

Sejak mengalami kecelakaan saat bekerja sebagai supir bajaj, tangan kanan Sakhuri harus di amputasi pada tahun 1980.

Disebut Jadi Pengemis Oleh Tetangga di Kampung, Sakhuri Buktikan Bisa Kuliahkan Anak dan Beli Rumah
Tribunjakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Sakhuri (55) pedagang asongan yang memiliki keterbatasan fisik di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, Sabtu (16/11/2019) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, PULOGADUNG - Bisa menguliahkan ke-2 anaknya dan miliki rumah tinggal di Tegal, Sakhuri (55) sering dikira bekerja sebagai pengemis di Ibu Kota oleh warga sekampung.

Sejak mengalami kecelakaan saat bekerja sebagai supir bajaj, tangan kanan Sakhuri harus di amputasi pada tahun 1980.

Saat itu, akibat dari kecelakaan tangan kanan Sakhuri mengalami patah tulang dan berujung pembengkakan.

Selain itu, tangan Sakhuri juga mengeluarkan bau yang yang kurang sedap.

Sakhuri (55) pedagang asongan yang memiliki keterbatasan fisik di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, Sabtu (16/11/2019)
Sakhuri (55) pedagang asongan yang memiliki keterbatasan fisik di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, Sabtu (16/11/2019) (Tribunjakarta.com/Nur Indah Farrah Audina)

Sehingga, amputasi ialah jalan terbaik untuk kondisinya.

"Berobat ke RS sudah, berobat ke patah tulang tradisonal juga sudah. Pas dibilang enggak bisa sembuh ya sudah langsung diamputasi di kampung. Selama satu tahun di sana banyak juga omongan orang bilang saya bisa apa dengan kondisi cacat begini," katanya di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, Sabtu (16/11/2019).

Menurutnya, saat itu sejumlah orang di kampung masih memiliki pemikiran bahwa kaum disabilitas atau difabel tak akan bisa memiliki pekerjaan yang layak.

"Prinsip saya itu enggak mau jadi sampah masyarakat meskipun cacat. Jadi satu tahun pascaoperasi itu sebenarnya saya perbanyak ibadah, istigfar dan memikirkan pekerjaan yang bisa saya lakukan dengan kondisi tangan sisa satu," sambungnya.

Akhirnya, di tahun 1981, Sakhuri merantau kembali ke Jakarta dan menjadi loper koran.

Halaman
123
Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved