Mengaku Diminta Susun Draf Perdamaian, Kuasa Hukum Gonzaga: Salah Satu Poinnya Tak Boleh Gugat Lagi

"Disepakati bahwa saya selaku kuasa hukum Gonzaga yang akan membuat konsep atau draf perdamaian," ujarnya.

Mengaku Diminta Susun Draf Perdamaian, Kuasa Hukum Gonzaga: Salah Satu Poinnya Tak Boleh Gugat Lagi
TRIBUNJAKARTA.COM/ANNAS FURQON HAKIM
Tampak depan SMA Kolese Gonzaga, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim

TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR MINGGU - Kuasa hukum SMA Kolese Gonzaga Edi Danggur membenarkan adanya keinginan untuk berdamai dari Yustina Supatmi selaku orangtua murid yang mengajukan gugatan.

"Ya intinya penggugat mau damai," kata Edi seusai sidang mediasi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selas (19/11/2019).

Ia menyebut saat ini kedua belah pihak juga telah mencapai kesepakatan.

"Disepakati bahwa saya selaku kuasa hukum Gonzaga yang akan membuat konsep atau draf perdamaian," ujarnya.

Menurut Edi, penunjukkan dirinya sebagai pembuat draf perdamaian adalah permintaan penggugat dan Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta.

"Mereka yang meminta saya. Salah satu poinnya, tidak boleh gugat lagi di kemudian hari," ucap Edi.

Sebelumnya, Yustina Supatmi selaku orangtua BB menggugat SMA Kolese Gonzaga lantaran sang anak dinyatakan tidak naik kelas.

Pada perkara ini, Yustina menggugat Kepala SMA Kolese Gonzaga Paulus Andri Astanto, Wakil Kepala Sekolah (Wakepsek) Bidang Kurikulum Himawan Santanu, Wakepsek Bidang Kesiswaan Gerardus Hadian Panamokta, dan guru Sosiologi Kelas XI Agus Dewa Irianto.

Ia pun turut menggugat Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Provinsi DKI Jakarta.

Halaman
1234
Penulis: Annas Furqon Hakim
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved