Kabar Artis

Dijenguk Aaliyah Massaid di Bui, Penampilan Terbaru Angelina Sondakh Sontak Ramai Diperbincangkan

Putri bungsu Reza Artamevia dan Ajie Massaid, Aaliyah Massaid menjenguk sang ibu sambung, Angelina Sondakh di penjara.

Dijenguk Aaliyah Massaid di Bui, Penampilan Terbaru Angelina Sondakh Sontak Ramai Diperbincangkan
Instagram Aaliya
Aaliya Massaid, Adjie Massaid, Angelina Sondakh, dan Keanu Massaid. 

Berbekal pengalamannya di bidang seni, termasuk saat menjadi Puteri Indonesia 2001 lalu, membawanya menjadi juri dalam lomba seni di Lapas Perempuan Klas II A Jakarta atau Lapas Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Termasuk saat memperingati Hari Pahlawan bersama warga binaan Lapas Pondok Bambu.

Bersama dengan Kepala Lapas Yuli Niartini dan Kepala Seksi Kegiatan Kerja Ema Puspita, Anggie sapaan akrab Angelina Sondakh menjadi juri dalam lomba membaca puisi, menyanyi, dan fashion show.

Mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari, membacakan puisi karyanya untuk memperingati Hari Pahlawan di Lapas Klas IIA Jakarta, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (10/11/2018).
Mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari, membacakan puisi karyanya untuk memperingati Hari Pahlawan di Lapas Klas IIA Jakarta, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (10/11/2018). (TRIBUNJAKARTA.COM/DIONSIUS ARYA BIMA SUCI)

Pantauan TribunJakarta.com di lokasi, Sabtu (10/11/2018), mengenakan training hitam, kaus dan jilbab putih, Anggie serius memberi penilaian.

Sesekali ia tertawa lepas saat peserta lomba melucu di atas panggung.

"Sudah tujuh tahun di sini dan tujuh tahun juga jadi juri kegiatan seperti ini, senang saja, lucu-lucuan saja gitu," ucap Anggie kepada TribunJakarta.com di Lapas Klas IIA Jakarta, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (10/11/2018).

Meski mengaku rindu keluarga, Anggie merasa senang karena di dalam penjara ia dapat banyak belajar dari warga binaan lainnya.

"Dulu kita mikir kalau kita susah, ternyata di sini banyak yang lebih susah dari kita. Di sini saya bisa bertemu orang-orang langka yang benar-benar punya kesabaran luar biasa," ujar dia. 

Untuk mengobati rasa rindu dengan keluarga, terutama anaknya, Anggie aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan di Lapas Perempuan Klas IIA Jakarta ini.

"Saya kan sedang dibina, jadi ikut saja. Misalnya, kalau lagi bikin pot, saya bantu melukis untuk menghias potnya, kalau pelatihan merajut, ya ikut saja, pokoknya ikut semuanya," kata dia.

Bahkan, Anggie turut aktif menjadi pengajar bagi warga binaan lainnya. Tak hanya di bidang seni, ia juga membuka kelas Bahasa Inggris bagi rekannya.

"Dulu pernah diminta Bu Kalapas untuk buka les Bahasa Inggris, kalau sekarang yang rutin itu les menyanyi dan fashion show," katanya.

Anggie divonis 10 tahun penjara setelah terbukti menerima suap pembangunan wisma atlet Sea Games 2011 lalu.

Suarakan harapan narapidana

Hidup sebagai narapidana, Anggie menitipkan harapan rekan-rekannya kepada pemerintah.

Permintaannya tersebut agar pemerintah menyiapkan lapangan pekerjaan bagi para mantan narapidana.

Menurut dia saat ini para mantan narapidana masih kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak selepas mereka bebas.

Hal ini terjadi lantaran stigma buruk melekat di masyarakat tentang seorang mantan narapidana.

"Saya harap pemerintah menyiapkan lapangan kerja, namanya mantan napi, pasti mau enggak mau, suka enggak suka, mereka sulit mendapatkan tempat," ucap Anggie.

"Kalau enggak di tampung nanti ujung-ujungnya masuk ke penjara lagi," dia menambahkan.

"Paling tidak ada MoU antara Kemenkumham dengan perusahan besar untuk menerima mereka kembali ke masyarakat-lah," ucap dia.

Pernyataan Anggie berdasar pengalamannya mendekam di penjara selama tujuh tahun.

"Selama ini saya sering ngobrol dengan teman-teman disini, beberapa orang statusnya R (residivis), rata-rata lumayan sih hampir 50 persen balik lagi (dipenjara)," imbuh dia. 

Menurut dia sebagian besar mantan narapidana tersebut terpaksa kembali melanggar hukum lantaran kesulitan mendapat kerja, padahal mereka butuh uang untuk bertahan hidup.

"Mau bagaimana lagi, enggak ada yang mewadahi, enggak punya kerja. Sementara kita butuh uang untuk makan, jadi ya ambil jalan pintas, jualan narkoba dan balik lagi ke kriminal," kata Anggie.

Ia bertekad, saat bebas nanti ingin membantu mewadahi para mantan narapidana untuk memperoleh pekerjaan yang layak.

"Mau banget (bantu), ini memang harus diwadahi biar nanti saat mereka keluar ada tempat mereka pergi, kalau tidak ada tempat, kasihan nanti mereka balik lagi," ucap Angie.

Anggie divonis 10 tahun penjara setelah terbukti menerima suap pembangunan wisma atlet 2011 lalu.

Mantan bupati Kukar baca puisi

Masih ingat Bupati Kutai Kartanegara yang terseret kasus korupsi Rita Widyasari? Kini ia tercatat sebagai warga binaan di Lapas Klas IIA Jakarta atau Lapas Pondok Bambu.

Tiga bulan setelah divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara pada Juli 2018 lalu, Rita sudah bisa berbaur dengan warga binaan lainnya.

Meski, berasal dari kalangan menengah atas namun ia terlihat tidak canggung bergaul dengan sesama warga binaan dari berbagai latar belakang yang berbeda status sosial.

Kepala Lapas Perempuan Klas IIA Jakarta, Yuli Niartini, mengatakan sejak menjadi penghuni lapas, Rita sangat aktif mengikuti beragam kegiatan bersama warga binaan lainnya.

"Bu Rita ini suka terjun langsung ikut berbagai kegiatan di sini, dia tidak hanya berdiam diri, tapi justru memberi semangat kepada warga binaan lainnya," ucap Yuli kepada TribunJakarta.com pada Sabtu (10/11/2018).

Puisi karya mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari yang dibacakannya pada peringatan Hari Pahlawan di Lapas Perempuan Klas IIA Jakarta, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (10/11/2018).
Puisi karya mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari yang dibacakannya pada peringatan Hari Pahlawan di Lapas Perempuan Klas IIA Jakarta, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (10/11/2018). (TRIBUNJAKARTA.COM/DIONSIUS ARYA BIMA SUCI)

Sama seperti warga binaan lainnya, Rita diwajibkan mengikuti beragam kegiatan pembinaan yang diselenggarakan oleh pengurus lapas yang terletak di Kelurahan Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur ini.

Seperti yang ia lakukan saat mengikuti peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November ini.

Di acara tersebut, ia turut menyumbangkan sebuah puisi dan ikut dalam perlombaan menyanyi untuk kategori beregu.

Hebatnya lagi, puisi bertemakan perjuangan itu dibuat sendiri oleh dirinya dalam waktu semalam. Puisi itu berjudul 'Merdeka'. 

"Iya saya sendiri yang buat, baru buatnya semalam," ujarnya saat ditemui TribunJakarta.com di dalam Lapas Perempuan Klas IIA Jakarta.

Ia mengaku menulis puisi sudah dilakukan sejak dulu. Saat masih kecil ia sudah diajarkan menulis puisi.

"Dulu waktu kecil hobi saya memang menulis puisi, tapi karena kesibukan sudah jarang, baru ini nulis lagi," ucap Rita.

Mengenakan celana jin hitam dan sweater loreng bercorak biru lengkap dengan topi warna senada, Rita nampak lantang membacakan puisi hasil karyanya.

Selepas membaca puisi, warga binaan lainnya yang terkesima dengan penampilan Rita langsung memberikan tepuk tangan meriah.

Melihat warga binaan lainnya mengapresiasi buah karyanya, Rita langsung melontarkan senyum kepada mereka.

Rasa puas juga terlihat dari raut wajahnya. Wajahnya yang dulu selalu berbalut makeup, kini nampak sederhana tanpa riasan apapun.

Rita divonis 10 tahun penjara dan denda sebesar Rp 600 juta dengan subsider 6 bulan kurungan setelah terbukti menerima gratifikasi Rp 110 miliar bersama-sama dengan staf khususnya, Khairudin.

Menurut hakim, Rita menugaskan Khairudin untuk mengkondisikan penerimaan uang terkait perizinan dan proyek-proyek di lingkungan Pemkab Kukar.

Selain itu, Rita terbukti menerima suap Rp 6 miliar dari Direktur Utama PT Sawit Golden Prima Hery Susanto Gun alias Abun.

Uang itu diberikan terkait pemberian izin lokasi perkebunan kelapa sawit di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara kepada PT Sawit Golden Prima.

Penulis: Rr Dewi Kartika H
Editor: Siti Nawiroh
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved