Sinematek Indonesia, Ruang Arsip Film Seluloid: Sering Dijadikan Referensi Mahasiswa Jurusan Film

Bila tak ada kunjungan dari kalangan mahasiswa jurusan film, ruang tersebut yang menjadi bagian dari Sinematek Indonesia, sepi pengunjung.

Sinematek Indonesia, Ruang Arsip Film Seluloid: Sering Dijadikan Referensi Mahasiswa Jurusan Film
TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Suasana Sinematek Indonesia, Pusat Arsip dan Data Film Indonesia di Jalan Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan pada Kamis (5/12/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, SETIABUDI - Suasana Ruang Misbach Yusa Biran di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Setiabudi, Jakarta Selatan, tampak lengang.

Hanya segelintir orang tampak sibuk di meja komputernya masing-masing.

Bila tak ada kunjungan dari kalangan mahasiswa jurusan film, ruang tersebut yang menjadi bagian dari Sinematek Indonesia, sepi pengunjung.

Padahal, Sinematek Indonesia, tempat pusat arsip dan data film seluloid pertama di Asia Tenggara itu, terbuka untuk umum.

Bukan sekadar menjadi sebuah museum film, Sinematek Indonesia (SI) didirikan bertujuan untuk menjadi sebuah pusat studi dan pusat aktifitas pengembangan sinema.

SI terbagi ke dalam tiga lantai yakni, lantai 4, lantai 5 dan lantai basement.

Ruang Misbach Yusa Biran

Misbach Yusa Biran merupakan orang dibalik berdirinya Sinematek Indonesia (SI) yang dibangun pada tahun 1975.

Pria yang lahir di Rangkasbitung, Banten tersebut pada tahun 1933 tersebut merupakan orang yang berpengaruh terhadap perkembangan film Indonesia.

Halaman
1234
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved