Anaknya Diduga Jadi Korban Bullying, Orangtua di Bekasi Lapor KPAD

Orangtua melaporkan dugaan tindakan bullying yang meninpa anaknya berinisial P (12) ke Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi

Anaknya Diduga Jadi Korban Bullying, Orangtua di Bekasi Lapor KPAD
TribunJakarta/Yusuf Bachtiar
Azmi (tengah) orangtua siswa korban bullying saat melapor ke KPAD Kota Bekasi, Jumat, (6/12/2019) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Orangtua di bernama Azmi Fitriyasah (45), melaporkan dugaan tindakan bullying yang meninpa anaknya berinisial P (12) ke Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi, Jumat, (6/12/2019).

Azmi datang ke kantor KPAD Jalan Jenderal Ahmad Yani, eks gedung Imigrasi, Komplek GOR Bekasi, Kecamatan Bekasi Selatan, sekitar pukul 14.00 WIB dengan didampingi istri.

Tujuan melaporkan dugaan bullying ini agar anaknya mendapat perlakuan adil dari pihak sekolah. Sebab, P diketahui kerap mendapatkan kekerasan yang dilakukan kakak kelasnya saat masih bersekolah di SMP Al-azhar Summarecon Bekasi.

"Jadi saya ke sini untuk meminta keadilan dari KPAD atas perlakuan yang didapat anak saya, dia jadi korban pengeroyokan oleh kakak kelasnya," kata Azmi usai membuat laporan di KPAD Kota Bekasi.

Azmi menjelaskan, kasus dugaan bullying ini pertama kali terungkap ketika anaknya enggan masuk sekolah lantaran takut dikeroyok kakak kelasnya.

"Terakhir kejadian tanggal 26 September 2019, anak saya malah nangis seperti malas ke sekolah, dia malah bilang 'Ibu nggak tahu kalau saya dikeroyok'," ungkapnya.

Dari pengakuan itu Azmi lalu mendatangi sekolah untuk meminta klarifikasi apa yang terjadi dengan anaknya. Pihaknya sekolah kata dia, justru tidak menanggapi dugaan bullying itu dengan serius.

Ditambah ketika dia mendapat laporan dari sekolah bahwa anaknya memiliki catatan buruk. Hal ini dilihat dari poin penilaian kelakuan yang telah mencapai angka 1000.

"Kalau di sekolah Al-Azhar Summarecon itu sistemnya poin, kalau poinnya lebih dari 1.000 itu dikeluarkan," ungkapnya.

SEA Games 2019: Salip Vietnam, Indonesia Kini Berada di Peringkat ke-2

Polda Metro Jaya Koordinasi dengan Bea Cukai Usut Kasus Penyeludupan Harley-Brompton

18 Kilogram Ganja Berhasil Diamankan di Depok, Diduga Akan Digunakan Untuk Perayaan Tahun Baru

Dari situ Azmi merasa geram, anaknya yang mendapat perlakuan bullying justru menerima poin besar sedangkan pelaku bullying yang mengeroyok anaknya tetap bisa diterima oleh sekolah.

" Harusnya fair, mungkin anak saya pernah terlambat, pernah berkelahi hingga mencolok mata temanya mendapat poin, tapi kalau yang mengeroyok ini tidak mendapat poin justru malah dilindungi berarti itu enggak adil,' jelasnya.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved