Breaking News:

Cegah Kecanduan Pornografi dengan Pemberian Materi Kesehatan Reproduksi

informasi seks bagi remaja hingga saat ini masih merupakan masalah yang tidak henti-hentinya diperdebatkan.

Istimewa
Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Provinsi DKI Jakarta mengadakan seminar sehari pencegahan kecanduan pornografi remaja di DKI Jakarta 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Salah satu masalah sosial di Indonesia yang perlu mendapatkan perhatian berkaitan dengan keberlimpahan informasi adalah pornografi.

Pornografi mengakibatkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama pada pre frontal corteks (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi ß otak logika).

Akibatnya bagian otak yang bertanggung jawab untuk logika akan mengalami cacat karena hiperstimulasi tanpa filter (otak hanya mencari kesenangan tanpa adanya konsekuensi).

Rusaknya otak akan mengakibatkan korban akan mudah mengalami bosan, merasa sendiri, marah, tertekan dan lelah. Selain itu, dampak yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan prestasi akademik dan kemampuan belajar, serta berkurangnya kemampuan pengambilan keputusan.

Menyadari akibat negatif yang ditimbulkan oleh pornografi, Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Provinsi DKI Jakarta pada awal Desember 2019 telah mengadakan seminar sehari pencegahan kecanduan pornografi remaja di DKI Jakarta.

Pada kegitan seminar diberikan ceramah terkait pencegahan dan penanggulangan kecanduan pornografi di kalangan remaja. Melalui seminar diharapkan peserta yang terdiri dari lebih kurang 100 orang Guru Bimbingan Konseling (BK) dan Kepala/Wakil Kepala Sekolah di DKI Jakarta akan lebih menyadari bahaya pornografi, memahami tingkat addiksi pada diri pribadi terkait pornografi, dan cara pencegahan dini terhadap kecanduan termaksud.

Salah satu narasumber, Kepala Pusat Pengabdian Pada Masyarakat Universitas Mercu Buana, Dr Inge Hutagalung menyatakan bahwa informasi seks bagi remaja hingga saat ini masih merupakan masalah yang tidak henti-hentinya diperdebatkan.

Argumen pertama memandang perbincangan tentang topik seks dianggap tabu atau tidak lazim untuk dibicarakan dalam budaya bangsa, karena seks adalah masalah yang terlalu pribadi atau dianggap sebagai persoalan “dalam selimut”.

Ada asumsi bahwa bila remaja mendapat informasi tentang seks, khususnya masalah pelayanan kesehatan reproduksi, justru akan mendorong remaja melakukan aktivitas seksual dan promiskuitas lebih dini.

Sementara itu, argumentasi kedua menyatakan, remaja membutuhkan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan implikasi pada perilaku seksual dalam rangka menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran terhadap kesehatannya.

"Pemberian informasi seks secara umum merupakan suatu proses mendidik yang bersifat kognitif, yang memiliki dampak yang luas terhadap konatif dan perilaku seseorang," kata Inge dalam keterangannya, Minggu (8/12/2019).

Warga Khawatir Jembatan Jalan Dekat Stasiun Rawa Buntu Mengalami Keretakan

Tol Layang Jakarta Cikampek Bakal Dioperasikan Sebelum Perayaan Hari Raya Natal

Lebih lanjut, Inge Hutagalung yang juga merupakan Wakil Ketua I KKI DKI Jakarta menegaskan bahwa untuk menyikapi pencarian yang tak berujung dari remaja terkait informasi tentang pornografi, yang salah satunya disebabkan oleh dorongan hasrat seksualitas (pubertas) maupun dorongan teman sebaya.

"Sudah saatnya untuk dipikirkan dan dipertimbangkan kebijakan pemerintah terkait pemberian pendidikan Kesehatan Reproduksi dalam kurikulum pendidikan sekolah sebagai solusi pemberian pengetahuan yang lebih memadai tentang seks kepada remaja," tuturnya.

Acara dibuka oleh Ketua KKI DKI Jakarta, Dr. Margani, yang menyatakan bahwa KKI DKI Jakarta sesuai visi KKI DKI Jakarta akan menjalin kerjasama dengan para Kepala/Wakil Kepala Sekolah serta para Guru BK di lingkungan DKI Jakarta dalam program KKI terkait penanggulangan kecanduan pornografi di kalangan remaja, khususnya para pelajar.

Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved