Cerita Rahmat, Sejak Usia 16 Tahun Keliling Dagang Bale Bambu: Lelah Terganti dengan Senyum Anak

Keuntungan ratusan ribu jadi alasan Rahmat (45) betah jadi penjual bale bambu. Jalan kaki dari Cibinong hingga Bekasi. Baru pulang jika laku.

Cerita Rahmat, Sejak Usia 16 Tahun Keliling Dagang Bale Bambu: Lelah Terganti dengan Senyum Anak
Tribunjakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Cerita Rahmat, Sejak Usia 16 Tahun Keliling Dagang Bale Bambu: Lelah Terganti dengan Senyum Anak 

"Saya masih betah karena pakai sistem setor. Jadi saya ambil barangnya dulu baru bayar. Enggak ada modal pun saya tetap jalan dan enggak pusing lagi mikirin," katanya.

Oleh sebab itu, sistem seperti ini memacunya untuk semangat bekerja.

Terkecuali sakit, Rahmat selalu bekerja keliling menjajakan bale dari satu rumah ke rumah lain.

Pilih Kursi Bale Bambu Besar

Sejak 29 tahun lalu, Rahmat memang gigih perihal bekerja.

Bila kondisi badannya sehat, ia akan berjualan bale keliling selepas subuh dan pulang ke rumah ketika balenya sudah terjual.

Oleh sebab itu, Rahmat selalu membawa satu bale berukuran besar sejak dulu.

"Dari dulu bawa bale begini. Jadi kan kalau begini untungnya lumayan dan hanya perlu bawa satu saja," jelasnya.

Dijebol Warga, Beton Pembatas di U-turn Jalan Satrio Belum Diperbaiki

Pria Diduga Bunuh Diri di Underpass Senen, Jasad Dibawa ke RSCM

Dalam satu hari, diakui Rahmat balenya pasti laku terjual meskipun tak menentu waktunya.

"Kalau jualan bale modalnya sabar. Asal mau jalan keliling pasti laku kok. Jadi saya pilih bawa satu sebesar ini dari dulu yang penting laku. Kalau pagi sampai sore belum laku, insyaAllah malam harinya laku kalau kita mau keliling," tandasnya

Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Siti Nawiroh
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved