Cerita Bocah Tawarkan Ojek Payung: Kisah Pilu Tak Dibayar Hingga Kebal Sakit

Masuki musim hujan, sejumlah pelajar di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat jadi ojek payung dadakan. Kisah pilu hingga jarang sakit.

Cerita Bocah Tawarkan Ojek Payung: Kisah Pilu Tak Dibayar Hingga Kebal Sakit
Tribunjakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Angga, ojek payung dikawasan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (11/12/2019). 

"Ini mau saya sendiri. Sudah begini sudah dari kelas 5 SD. Kalau pendapatannya ya tergantung. Tapi kalau banyak yang pakai jasa kita ya bisa dapat Rp 100 ribu," katanya di Bekasi, Rabu (11/12/2019).

Meskipun banyak saingan ojek payung dan berasal dari teman-temannya sendiri, Angga menjelaskan hasil tiap orangnya selalu berbeda.

Saat bekerja, Angga mengatakan tak ada istilah mengalah dan gantian.

"Jumlah pendapatnya beda-beda. Tergantung kita nawarinnya aja kayak gimana. Kalau dia lagi yang dapat ya memang lagi rezekinya. Kita enggak pada iri," sambungnya.

Cerita Pilu

Meskipun memanfaatkan momen untuk sekedar mencari tambahan uang jajan, terselip sederet kisah pilu yang dialami oleh anak-anak ojek payung.

Akibat tak tentukan tarif persekali mengojek payung, para anak-anak ini sering sekali mendapatkan bayaran yang tak sepantasnya.

Hal ini diungkapkan oleh Dendi Putra Mulyadi dan Muhammad Pandu Ibrahim, siswa kelas 5 SD di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Jatiwaringin VI.

"Ada sedihnya kerja kayak gini. Kita yang awalnya senang karena hujan justru sering kecewa pas ada yang pakai jasa kita tapi bayarnya seenaknya. Memang enggak ada tarifnya, tapi sering ada yang kasih kita cuma Rp 200," kata mereka bergantian.

Lanjut, keduanya mengungkapkan bukan tak bersyukur. Hanya saja hatinya terasa pilu ketika melihat nominal uang dan jarak yang mereka tempuh.

Halaman
123
Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved