Penyalur Tenaga Kerja di Kampung Melayu Diduga Lakukan Penipuan, Korban Rugi Jutaan Rupiah

Delapan orang korban penipuan satu perusahaan penyalur tenaga kerja di kawasan Kampung Melayu menyambangi Mapolsek Jatinegara.

Penyalur Tenaga Kerja di Kampung Melayu Diduga Lakukan Penipuan, Korban Rugi Jutaan Rupiah
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Korban penipuan satu perusahaan penyalur tenaga kerja di kawasan Kampung Melayu saat mendatangi Mapolsek Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (11/12/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Delapan orang korban penipuan satu perusahaan penyalur tenaga kerja di kawasan Kampung Melayu menyambangi Mapolsek Jatinegara.

Riki Riyanto (28), satu korban mengatakan kejadian berawal saat mereka dapat informasi lowongan kerja lalu diminta datang melakukan interview.

Meski melamar untuk posisi berbeda, mereka diminta datang melakukan interview ke satu perusahaan berinisial SK di Jalan Jatinegara Barat pada Senin (9/12/2019).

"Pas interview ada sekitar 24 orang, semuanya dinyatakan lulus. Tapi selesai interview kita dimintain uang Rp 1,1 juta, alasannya untuk biaya penempatan kerja dan ID member," kata Riki di Mapolsek Jatinegara, Rabu (11/12/2019).

Beda dengan perusahaan penyalur kerja lain yang memangkas uang jasa dari gaji bulanan saat sudah bekerja di perusahaan.

Riki menuturkan PT SK berjanji tak mengambil untung dari uang gaji bulanan sehingga mereka sepakat membayar uang Rp 1,1 juta.

"Hari Selasanya kita diminta datang lagi untuk ikut seminar dan dikasih berkas penempatan kerja berdasarkan posisi. Tapi selesai seminar kita kembali disuruh bayar Rp 100 ribu," ujarnya.

Manajemen PT SK berdalih uang tersebut untuk mengurus biaya administrasi dan seminar sebelum mereka bekerja.

Para korban bersedia membayarkan uang karena dijanjikan bila dalam satu bulan tak kunjung mendapat kerja uang bakal dikembalikan.

"Hari ini kita kembali diminta datang ke kantor pusat PT SK untuk ambil surat penempatan kerja. Tapi pas sampai lokasi perusahaan malah diminta bayar Rp 500 ribu lagi," tuturnya.

Persela Lamongan Menang Tipis Kontra PSS Sleman, Jauhi Zona Merah Liga 1 2019

Jusuf Kalla Sebut Kebutuhan Kantong Darah di DKI Jakarta Mencapai 1.000 Per Hari

Opi Yudin (35), korban lainnya menduga PT SK dan perusahaan yang jadi tempat penempatan mereka merupakan sindikat penipu.

Pasalnya meski penempatan perusahaan berbeda, mereka sama-sama diminta membayarkan uang agar dapat diterima kerja.

"Nominalnya enggak sama, ada yang Rp 500 ribu, Rp 300 ribu. Perusahaannya juga beda, tapi kita sama-sama interview di PT SK ini. Karena PT SK ini penyalur kerja," kata Opi.

Penulis: Bima Putra
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved