Food Story

Starling Mantab, Ketika Starbucks Keliling Naik Kelas: Utamakan Kebersihan dan Senyum Ramah Pedagang

Agung Setiawan (37), pendiri Kopi Keliling Mantab, mengatakan aspek kebersihan diterapkan kepada pedagang starling atau Starbucks Keliling Mantab.

TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Pedagang Starling Mantab, Marzel saat ditemui TribunJakarta.com, Bendungan Hilir pada Selasa (17/12/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, TANAH ABANG - Agung Setiawan (37), pendiri Kopi Keliling Mantab, mengatakan aspek kebersihan diterapkan kepada pedagang starling atau Starbucks Keliling Mantab.

Ia ingin tampilan fisik para pedagang starling bersih.

Kebersihan gerobak sepeda maupun peralatan yang ada didalamnya juga diperhatikan.

"Dari sisi higienitas diperhatikan. Air biasa dan panas dari air isi ulang. Kita juga menggunakan dua termos berkualitas bagus," ungkapnya kepada TribunJakarta.com pada Selasa (17/12/2019).

Untuk es batu, boks kecil telah disiapkan di masing-masing gerobak sepeda.

Namun, es batu untuk starling belum diproduksi sendiri.

"Untuk es kita beli dulu dari pemasok. Ke depan kita akan bikin sendiri. Kalau skalanya udah besar kita akan kerjasama dengan pembuat ice cube untuk cafe-cafe," terangnya.

Sementara untuk gelas, terbagi ke dalam dua jenis. Gelas plastik dan gelas kertas.

Pedagang Starling Mantab, Marzel saat ditemui TribunJakarta.com, Bendungan Hilir pada Selasa (17/12/2019).
Pedagang Starling Mantab, Marzel saat ditemui TribunJakarta.com, Bendungan Hilir pada Selasa (17/12/2019). (TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas)

Gelas kertas digunakan untuk air hangat sedangkan plastik untuk air dingin.

"Kalau menurut artikel yang saya baca, gelas plastik itu enggak bagus untuk air hangat bisa menimbulkan penyakit," tuturnya.

Sebelum berjualan, para pedagang juga diberikan pelatihan untuk bersikap ramah kepada pembeli.

"Sebelum berjualan, ada training agar mereka ramah kepada pembeli. Senyum, sapa dan santun," ungkapnya.

Jual Kopi Bubuk Asli

Di kantor Mantab yang berada di rumah bertingkat, Agung Setiawan menjelaskan asal muasal terciptanya kopi saset Mantab.

Kopi Mantab tercipta karena kegelisahannya akan minimnya kopi murah tapi berkualitas.

Ketika masih bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan, Agung merasa harga segelas kopi cukup menguras isi kantong.

Ia sempat memutuskan usaha membuat kopi yang kini tengah tren sembari bekerja.

Namun di tengah jalan, Agung memutuskan keluar pekerjaannya.

Ia kemudian berjualan kopi bubuk murni saset setelah mendapatkan partner usaha.

"Bagaimana saya ciptakan, orang yang mencintai kopi murni, bisa mendapatkan seharga Rp 5 ribu secara daily," ungkapnya kepada TribunJakarta.com.

Dengan adanya kopi Mantab ini, Agung berharap tak ada alasan lain untuk penikmat kopi mengatakan harga segelas kopi mahal.

"Orang yang dulu enggak pernah minum kopi saset, akan lari ke tukang kopi keliling karena mereka butuh kopi murni," tambahnya.

Agung menjelaskan alasan kopi bubuknya berharga murah.

"Sebenarnya mengejar profit aja (para pemilik toko kopi). Mereka membebankan pengeluaran produk sehingga harganya mahal. Padahal harga biji kopi sama," tambahnya.

Nama Kopi Mantab digunakan lantaran mudah diingat yang terdiri dari dua kata.

"Kalau pemilihan warna merah, biasanya merah itu brand leader. Nama Mantab akan mudah diingat dan warna merah mencolok perhatian," pungkasnya.

Ubah Citra Keren

Selain menjual produk kopinya, Agung ingin mengubah citra pedagang starling yang ala kadarnya saja.

Layaknya perusahaan ojek dalam jaringan, Agung pun secara bertahap tengah membuat aplikasi untuk pedagang starling.

Ia ingin membuat sebuah manajemen yang baik. Kebersihan dan pelayanan tak lupa dikedepankan.

"Bagaimana kami kelola agar rapi. Konsumen lebih happy beli ke kita," tambahnya.

Nantinya, konsumen tinggal memesan lewat aplikasi di ponsel untuk memanggil starling yang berada di dekatnya.

Ia ingin menunjukkan bahwa menjadi seorang starling adalah pekerjaan yang keren. Yang tadinya malu-malu, jadi mau.

"Dulu jadi tukang ojek itu enggak keren. Sampai ada satu momen jadi tukang ojek keren. Remaja bahkan ibu-ibu gabung. Nah kami ingin kopi keliling jadi keren. Keluar dari pekerjaan, bisa jadi kopi keliling," tambahnya.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Suharno
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved