Bursa Ketua PGI Jaya, Reza Tawarkan Penguatan Ekosistem Bisnis, Seperti Apa?

Reza Ihsan Rajasa misalnya, salah satu Calon Ketua PGI Jakarta menawarkan konsep pendanaan berbasis ekosistem

Bursa Ketua PGI Jaya, Reza Tawarkan Penguatan Ekosistem Bisnis, Seperti Apa?
Istimewa
Reza Ihsan Rajasa 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Isu pendanaan yang berkelanjutan di dunia olah raga selalu menjadi tantangan pengembangan tiap cabang, termasuk Golf.

Menjelang Musyawarah Provinsi Persatuan Golf Indonesia (PGI) Jakarta Raya, 19 Januari 2020, para kandidat berlomba menawarkan sejumlah skema pendanaan untuk menjamin keberlangsungan pembinaan Golf di masa depan.

Reza Ihsan Rajasa misalnya, salah satu Calon Ketua PGI Jakarta menawarkan konsep pendanaan berbasis ekosistem. Seperti apa?

Ditemui di bilangan Jakarta Selatan, Sabtu, (11/1/2020), Reza meyakini penguatan ekosistem Golf menjadi strategi yang tepat dalam fund rising olah raga. Dengan kuatnya ekosistem, akan menggerakkan bisnis di lingkungan olah raga terkait, sehingga pada akhirnya mampu menopang prestasi atlet.

Ekosistem dimaksud mulai dari PGI, pemilik lapangan atau driving range, sponsor, atlet hingga pemerintah. Semuanya menurut Reza harus bergandengan tangan menuju sasaran yang sama secara simbiosis mutualisme.

“Misalnya setiap atlet harus mempunyai Orang Tua Angkat, yang menyiapkan dukungan dalam mengikuti berbagai kejuaraan. Lalu klub-klub harus diberikan tanggung membina bibit-bibit atlet yang pada waktunya mampu berbicara di berbagai kejuaraan, mulai dari PON, SEA Games, Asean Games hingga Olympics," ujar Reza.

Atlet sendiri pada waktunya juga memiliki tanggung jawab mencari adik asuh yang disiapkan untuk regenerasi. Ditambahkan Reza, bila banyak pihak mau terlibat mengembangkan ekosistem lainnya, maka dengan sendirinya terbentuk iklim industri yang sehat.

“Pemerintah tinggal mendukung secukupnya, karena PB dan komunitas olah raga harus bergerak menuju kemandirian," harapnya.

Evan Dimas Bicara Klub Barunya di Musim Depan: Pokoknya Surprise, Segera Diumumkan

Sebagai perbandingan, peran ekosistem olah raga selama ini terbukti sukses mendukung pengembangan olah raga di banyak negara. Misalnya English Premier League (EPL) di Inggris maupun National Basketball Association (NBA) di AS.

Nilai saham klub-klub EPL dari tahun ke tahun terus meningkat, pendapatan hak siar melejit, sementara NBA menjadi merk mahal karena reputasinya.

Semua itu terjadi karena kemampuan para stakeholders men-drive organisasi olah raga menjadi entitas yang relevan dengan kemajuan jaman. Itu pulalah yang diimpikan Reza, untuk membawa Golf menjadi industri, entertainment dan investment yang menguntungkan semua pihak.

Mungkinkah ekosistem olah raga bisa besar di Indonesia?

“Saya selalu berprinsip Eveything Start With A Dream. Tak ada yang tak mungkin kalau kita serius dan fokus. Golf di kita punya modal historis dan market yang memadai. Tahun 1983 Jakarta sudah menjadi tuan rumah Piala Dunia Golf. Itu capaian penting. Lalu makin kesini makin banyak anak muda memainkan stick Golf. Ini pasar baru yang potensial untuk dikembangkan," paparnya.

Belum lagi, tambahnya, Golf sebagai bagian dari destinasi wisata. Sebagai pemegang lisensi host event bergengsi, LPGA di Indonesia 2020, ayah dua anak itu yakin harapannya bukan omong kosong.

“Kalau nawaitu kita benar, dijalankan dengan cara yang benar, Insya Allah hasil tak akan mengkhianati proses," tuturnya bijak.

Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved