Raja Keraton Agung Sejagat Tak Pernah Sebarkan Pengaruh Ketika Tinggal di Kampung Bandan

Raja Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso (41) tidak pernah menyebarkan pengaruh dan ajaran apapun selama tinggal Ancol, Pademangan, Jakarta Utara.

Raja Keraton Agung Sejagat Tak Pernah Sebarkan Pengaruh Ketika Tinggal di Kampung Bandan
ISTIMEWA
Totok tengah naik kuda dan hebohnya Kerajaan Agung Sejagat Purworejo 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, PADEMANGAN - Raja Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso (41) tidak pernah menyebarkan pengaruh dan ajaran apapun selama tinggal bertahun-tahun di Kampung Bandan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara.

Ketua RT 12/RW 05 Ancol, Abdul Manaf memastikan hal tersebut.

"Enggak pernah sama warga sini mah, enggak pernah nyebarin apa-apa," kata Abdul di sekretariat RW 05 Ancol, Rabu (15/1/2020) malam.

Tokoh masyarakat setempat, Ramosin juga mengonfirmasi hal tersebut.

Kata Ramosin, Toto bahkan jarang berinteraksi dengan warga.

"Ya nggak pernah ngobrol, tertutup orangnya," kata Ramosin.

Toto Santoso ditangkap bersama Ratu Kerajaan Agung Sejagat, Dyah Gitarja alias Fanni Aminadia (41).

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat diamankan oleh pihak kepolisian saat dalam perjalanan ke markas Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

Kemunculan Keraton Agung Sejagat ini mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan acara wilujengan dan kirab budaya, yang dilaksanakan dari Jumat (10/1) hingga Minggu (12/1).

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Iskandar Fitriana saat dikonfirmasi Tribunjateng.com, Selasa (14/1/2020), menjelaskan keduanya dijerat pasal penipuan.

Iskandar menambahkan, selain pasal penipuan, kedua pelaku juga diduga melanggar pasal 14 UU RI No 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

"Dalam pasal 14 tersebut, disebutkan barang siapa menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, maka dihukum maksimal 10 tahun penjara," jelas Kombes Iskandar, dikutip dari Tribunjateng.com, Selasa (14/1/2020).

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel menyebutkan Toto dan Fanni telah ditetapkan sebagai tersangka karena menarik dana dari masyarakat dengan menggunakan tipu daya.

"Dengan simbol-simbol kerajaan, tawarkan harapan dengan ideologi, kehidupan akan berubah. Semua simbol itu palsu," kata Rycko.

Penulis: Gerald Leonardo Agustino
Editor: Suharno
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved