Banyak Motor Curian Dijual Rp 3,5 Juta Laku di Pandeglang, Untuk Operasional ke Sawah dan Hutan

Penadah akan menjual kepada warga sekitar, orang yang dikenal, dengan mengambil untung Rp 500 ribu, menjadi seharga Rp 3,5 juta.

TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir
Kapolsek Serpong, Kompol Luckyto Andri Wicaksono, saat gelar rilis kasus penipuan sewa apartemen di Mapolsek Serpong, Jalan Letnan Sutopo, Lengkong Gudang Timur, Serpong, Kamis (5/9/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Aparat Polsek Serpong berhasil menangkap dua orang penadah motor curian di bilangan kecamatan Panimbangan, Pandeglang, Banten, berinisial MRN (36) dan SPN (30).

Kapolsek Serpong, Kompol Stephanus Luckyto, mengatakan, dua penadah itu membeli motor curian dari wilayah hukum Polres Tangerang Selatan (Tangsel).

Dari tangan MRN dan SPN didapat tujuh motor beraneka merek dan jenis.

"Tujuh motor itu didapatkan selama dua tiga bulan saja, kata keterangan pelaku," ujar Luckyto saat ungkap kasus penadahan tersebut di Mapolsek Serpong, Jalan. Letnan Sutopo, Lengkong Gudang Timur, Serpong, Tangsel, Senin (20/1/2020).

Luckyto mengatakan, dua penadah itu sudah beroperasi selama dua tahun.

"Banyak motor curian yang dijual di sana, Pandeglang, dari sini pada dijual ke sana semua," ujarnya.

Motor hasil curian itu dijual secara utuh, bukan dipisah per onderdil, dengan harga Rp 3 juta per unit.

Penadah akan menjual kepada warga sekitar, orang yang dikenal, dengan mengambil untung Rp 500 ribu, menjadi seharga Rp 3,5 juta.

"Secara umum, satu unit kendaraan yang dibeli oleh penadah dari pelaku atau pemetik Rp 3 juta, rata-ratanya seperti itu," ujarnya.

Luckyto mengatakan, banyaknya motor bodong hasil curian alias tanpa surat-surat yang laku dijual di sana, lantaran pembelinya tidak menggunakannya di jalan raya, sehingga tidak takut ditilang.

Kiper Kurnia Meiga Diisukan Kembali, Begini Penjelasan Arema FC

Bongkar Praktik Miras Oplosan, Polisi Sita Ribuan Botol Bekas dengan Merek Ternama

Selalu Merasa Haus hingga Sering Bangun Malam untuk Buang Air Kecil, Ini 9 Tanda Diabetes

Mereka banyak menggunakan sepeda motor itu untuk operasional bekerja di sawah dan hutan.

"Karena mereka memakai untuk ke hutan, ke sawah, jadi enggak takut ditilang. Waktu kita ke sana, lokasinya jauh, sudah masuk ke perkebunan, masih satu jam lagi ke dalam," ujarnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved