Breaking News:

Polemik Pembelian Speaker Rp 4 Miliar

Baru Diperbaiki, Toa Banjir di Bidara Cina Jangkauannya Hanya Radius 100 Meter

Ketua RW 07 Kelurahan Bidara Cina, Mamat Sahroni (58) mengatakan suara peringatan yang menyalak dari empat toa itu hanya sayup-sayup terdengar.

TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Ketua RW 07 Kelurahan Bidara Cina Mamat Sahroni saat ditemui di Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (20/1/2020).  

"Jadi tadi saya dikasih kode sama BPBD DKI biar Toanya nyala. Kalau sebelumnya kan yang mengatur bunyi dari BPBD, sekarang warga bisa sendiri," tuturnya.

5 fakta polemik pembelian speaker peringatan dini bencana

Rencana Pemprov DKI membeli enam set perangkat pengeras suara atau speaker untuk memperkuat sistem peringatan dini bencana menuai protes dari anggota dewan Kebon Sirih.

Adapun dana sebesar Rp 4 miliar telah disiapkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk membeli enam set speaker tersebut.

Dana sebesar itu berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020.

TribunJakarta.com pun coba merangkum beberapa fakta terkait polemik pembelian enam set pengeras suara seharga Rp 4 miliar tersebut.

1. Diklaim Memiliki Fitur Canggih

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI M. Ridwan mengklaim, pengeras suara itu memiliki harga selangit lantaran dilengkapi sejumlah fitur canggih.

Ia menyebut, ada dua fitur unggulan yang terdapat di speaker tersebut, yaitu Automatic Weather Sensor (AWS) dan Automatic Water Level Recorder (AWLR).

Pengeras suara yang dinamakan Disaster Warning System (DWS) ini nantinya akan tergabung dalam sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) BPBD DKI.

Halaman
1234
Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved