Breaking News:

Polemik Pembelian Speaker Rp 4 Miliar

Dibanding Toa, Warga Bidara Cina Usul Pemprov DKI Beli Benda Ini untuk Bantu Evakuasi Banjir

Menurutnya evakuasi lebih mudah karena masing-masing Ketua RT dapat berkoordinasi lewat HT memperingati tinggi air

Penulis: Bima Putra | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta/Annas Furqon Hakim
Pengeras suara peringatan dini bencana di RT 08/RW 10 Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (20/1/2020) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Warga Kelurahan Bidara Cina korban banjir luapan Kali Ciliwung tak setuju penambahan enam alat peringatan dini banjir atau Disaster Warning Sistyem (DWS).

Bagi warga RW 07, penambahan DWS yang mengeluarkan bunyi peringatan lewat toa dengan anggaran Rp 4 miliar itu tak ubahnya buang uang.

Ketua RW 07 Mamat Sahroni berharap Pemprov DKI mempertimbangkan penggunaan dana untuk hal lain ketimbang menambah DWS.

"Kalau menolak sih enggak bisa ya, kita cuman warga. Tapi menurut saya itu buang-buang anggaran, karena DWS di Pos RW 07 saja enggak berguna," kata Mamat di Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (21/1/2020).

Ini didasari pengalaman yang tak merasakan manfaat dari alat pemberian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta.

Setidaknya dari empat tahun silam DWS terpasang di Pos RW 07, tak sekalipun 4 toa yang bertengger di tiang berbunyi memperingati.

Justru saat warga kebanjiran toa berbunyi dengan radius jangkau yang hanya sekitar 100 meter dari Pos RW 07 berada.

"Menurut saya lebih baik beli HT (handy talky) agar saat proses evakuasi warga lebih mudah. Karena setiap banjir masalah evakuasi pasti sulit," ujarnya.

Menurutnya evakuasi lebih mudah karena masing-masing Ketua RT dapat berkoordinasi lewat HT memperingati tinggi air.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved