Breaking News:

Imlek 2020

Pendiri Museum Tionghoa Sebut Imlek Sebagai Kegembiraan Bersama Perayaan Indonesia

Imlek bukan hanya dirayakan oleh etnis Tionghoa saja, melainkan seluruh masyarakat Indonesia.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Erik Sinaga
TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR
Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, di Ruko Golden Road BSD, Serpong, Tangsel, Kamis (23/1/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Azmi Abubakar (47), sosok pendiri Museum Tionghoa satu-satunya di Indonesia memiliki pandangan tersendiri terkait perayaan Imlek.

Berkaca dari sejarah, berdasarkan literatur kuno yang dipelajarinya, Imlek bukan hanya dirayakan oleh etnis Tionghoa saja, melainkan seluruh masyarakat Indonesia.

"Imlek ini sebetulnya perayaan bagi Bangsa Indonesia, bukan hanya untuk orang Tionghoa. Saya ingin menyampaikan itu karena memang ratusan tahun yang lalu, Imlek itu menjadi kegembiraan bersama," ujar Azmi di museumnya di bilangan Ruko Golden Road BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (23/1/2020).

Selama 15 hari perayaan Cap Go Meh mulai pergantian tahin baru Cina itu, suasana hidup.

Azmi mengatakan, banyak pegiat kesenian, seperti lenong, keliling ke Jakarta mementaskan aksinya.

"Itu mereka kalau menjelang Imlek pasti hidup itu, jadi mereka datang ke kota Jakarta, ramai-ramai, kayak dibilang ngamen mungkin keliling ya, dan orang Tionghoa sedang berbaik hati itu pas Imlek," ujarnya.

Bahkan tidak hanya pelaku kesenian, tapi juga para pedagang datang berbondong-bondong ke Jakarta untuk berjualan.

"Para pedagang, masyarakat misalnya dari daerah Serpong, Pamulang, Bekasi, Depok itu ngumplek-plek ke Jakarta. Dagangannya laris, dan harganya cukup tinggi. Ada istilahnya 'harganya mahal tapi enggak apa apa, setahun sekali'. Nah jadi dulu semua orang merayakan," ujarnya.

Bila Terbukti Bersalah, Eks Dirut Garuda Bisa Terancam Hukuman 10 Tahun Penjara

Klausul Khusus Kontrak Ezechiel Ndouassel di Bhayangkara, Tidak Boleh Main saat Lawan Persib

PSI Mengadukan Dugaan Kejanggalan Proyek Revitalisasi Kawasan Monas ke KPK

Azmi menyebut kemeriahan Imlek itu sudah hilang selama 30 tahun, dan harus dihidupkan kembali.

"Nah kemeriahan seperti ini hilang sekian lama, 30 tahun lenyap. Saya kira ini harus hidup kembali dan bagi budayawan, seniman, itu media yang mereka tunggu-tunggu. Karena di situ dia bisa ekspresikan, ya kan latihannya sekian lama, lalu diapresiasi oleh masyarakat. Nah, kemeriahan ini, perayaan ini saya kira harus hadir kembali di tengah kita," ujarnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved