Terisolir di Wuhan, Kondisi Psikis Mahasiswi Asal Bekasi Mulai Ketakutan Terpapar Virus Corona

Husnia (23), mahasiswi asal Kabupaten Bekasi yang terisolir di Wuhan, China, mengaku mulai mengalami tekanan psikis akibat merebaknya virus corona.

Terisolir di Wuhan, Kondisi Psikis Mahasiswi Asal Bekasi Mulai Ketakutan Terpapar Virus Corona
TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR
Orang tua Husnia di Bekasi bernama Sujak (67) saat menunjukkan foto putri bungsunya. 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, CIKARANG BARAT - Husnia (23), mahasiswi asal Kabupaten Bekasi yang terisolir di Kota Wuhan, China, mengaku mulai mengalami tekanan psikis akibat merebaknya virus corona.

Mahasiswi semester akhir Universitas Negeri Surabaya (Unesa), ini merupakan warga Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat yang sedang menjalani program pendidikan di Central China Normal University.

Melalui sambungan telepon video, Husnia selalu memberikan kabar ke orangtuanya yang tinggal di Bekasi.

TribunJakarta.com juga berkesempatan melihat langsung ketika Husnia sedang tersambung melalui telepon yang dilakukan kakaknya Rosuli (33), pada, Kamis, (30/1/2020) kemarin.

Husnia bercerita, dia dan sembilan temannya dari Unesa hingga saat ini masih dalam keadaam sehat.

Tetapi, ketika ditanya soal kondisi psikis, Husnia mengaku mulai ketakutan lantaran lebih dari sepekan terjebak di Kota Wuhan yang diisolir otoritas China.

"Dampak psikis kita tidak memungkiri ya bahwa kita di sini hidup di area yang bervirus seperti itu kita takut itu pasti ada," kata Husnia.

Meski begitu, dia dan teman-temannya selalu memberikan semangat satu sama lain agar mental mereka kuat menghadapi bencana wabah virus corona.

"Kita bersama-sama apapun kita lakukan sama-sama jadi kita saling menguatkan minum vitamin dan mineral yang banyak dan banyak minum air hangat jadi insya Allah kita bisa kuat," jelas dia.

Wanita lulusan Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang ini mengaku selalu mengikuti perkembangan terbaru penanganan wabah virus corona di China.

"Iya kita sudah dapat informasi udah banyak yang bisa disembuhkan sekitar 100 jiwa," ujarnya.

Dia juga sempat menyingung video yang beredar luas di media sosial korban berjatuhan terkena virus corona. Menurut dia, video itu tidak sepenuhnya benar, ada beberapa video yang diduga rekaman lama.

"Itu korban yang berjatuhan itu dari tahun 2013 masalah virus yang sars dan mers itu untuk yang virus corona enggak ada yang sampai kaya gitu itu bukan video baru," jelas dia.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Suharno
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved