Korban Miras Oplosan di Jakarta Timur

2 Korban Miras Oplosan Kejang-kejang dan Buta, Dokter Polri: Diduga Dicampur Spiritus

Deni (41) dan Soni (34) diduga tewas keracunan miras oplosan jenis Gingseng racikan satu pedagang jamu dekat Kantor Kelurahan Ciracas.

TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Kepala Instalasi Sentra Visum dan Medikolegal RS Polri Kramat Jati Kombes Edy Purnomo (kiri) saat memberi keterangan di Jakarta Timur, Rabu (12/2/2020). 

Soni tewas di RSUD Kecamatan Ciracas pada Senin (11/2/2020) sekira pukul 05.00 WIB setelah pihak keluarga sepakat perawatan dihentikan.

Biaya perawatan yang tak ditanggung BPJS Kesehatan dan kondisi Soni yang dalam keadaan koma dan buta membuat keluarga pasrah.

"Memang mereka berdua ini paling banyak minum. Kalau saya minum 6 gelas doang, sampai sekarang enggak terasa sakit sih. Cuma efeknya memang lebih cepat mabuk," sambung dia.

Hendra mengakui kesalahannya menenggak miras, namun dia tak terima dua sahabatnya harus tersiksa sakit luar biasa sebelum tewas.

Dia berharap jajaran Polrestro Jakarta Timur yang kini menangani kasus lekas menangkap pelaku dan mengungkap kasus.

"Sepertinya dicampur alkohol obat atau spirtus. Saya bisa selamat karena cuman minum sedikit, mudah-mudahan enggak sakit atau kenapa-kenapa," kata Hendra.

Cerita Keluarga Korban Miras Oplosan di Ciracas

Duka cita menyelimuti keluarga Deni (41) dan Soni (34) yang diduga tewas keracunan miras oplosan racikan pedagang warung jamu dekat Kantor Kelurahan Ciracas.

Deni meninggal pada Sabtu (8/2/2020) sekira pukul 02.00 WIB di rumah, sedangkan Soni pada Senin (10/2/2020) sekira pukul 05.00 WIB di RSUD Kecamatan Ciracas.

Kakak sepupu Soni, Abdul Latip (41) mengatakan saudaranya sempat beberapa kali mendapat penanganan medis sebelum meninggal.

"Mulai sakit pas ikut melayat ke rumah Deni hari Sabtu. Bilang detak jantungnya cepat dan napas megap-megap, enggak lama dibawa ke Klinik," kata Abdul di Ciracas, Jakarta Timur, Senin (10/2/2020).

Nahas kondisi Soni yang sudah menggigil dan mengalami sakit perut kadung buruk sehingga tak lagi bisa ditangani klinik.

Soni lalu dibawa pulang hingga akhirnya Ketua RT setempat menyarankan pihak keluarga membawa almarhum ke RSUD Kecamatan Ciracas untuk dirawat.

"Akhirnya dibantu pak RT dibawa ke RSUD Ciracas, di sana memang langsung ditangani. Akhirnya dari hari Sabtu dirawat di sana," ujarnya

Meski di RSUD Kecamatan Ciracas Soni mendapat penanganan maksimal, Abdul menuturkan saudaranya sudah terlambat ditangani.

Merujuk perbincangannya dengan dokter RSUD Kecamatan Ciracas yang menangani, harapan hidup Soni saat dirawat pada Sabtu (8/2/2020) tipis.

"Katanya (dokter) korban (Soni) kayaknya sudah enggak bisa ditangani. Kalau mau tetap bertahan bisa, nanti kalau jantung berhenti dicoba pompa jantung," tuturnya menirukan ucapan dokter.

Buruknya kondisi Soni sebenarnya sudah didengar pihak keluarga dari dokter Klinik yang sempat melakukan pemeriksaan.

Namun pihak keluarga sempat optimis Soni tak bakal menyusul Deni yang lebih dulu meninggal di rumah tanpa sempat dirawat.

"Bilangnya, 'Bu di sini peralatan kurang lengkap, kalaupun dibawa ke RS kayaknya sudah enggak ada harapan'. Seperti itu waktu di Klinik, ibaratnya butuh keajaiban lah," kenang Abdul.

Pada Minggu (9/2/2020) malam, dokter RSUD Kecamatan Ciracas kembali menyampaikan kondisi Soni yang kian memburuk seiring waktu.

Di tengah kalut yang menyelimuti, pihak keluarga semakin bimbang meneruskan perawatan Soni karena tak ditanggung BPJS Kesehatan.

"Akhirnya keluarga tanda tangan sepakat agar perawatan berhenti. Masalah biaya juga, dan memang kondisi korban sudah sangat parah," kata Abdul.

Sebelum keluarga Soni sepakat seluruh penanganan medis dihentikan, Abdul menuturkan dia sempat memastikan kondisi.

Dokter RSUD Kecamatan Ciracas pun menunujukkan buruknya kondisi korban dengan cara menyentuh bola mata Soni.

"Awalnya mata almarhum disenter, tapi enggak respon, enggak merasa silau. Lalu dokter pakai sarung tangan dan nyentuh bola mata, tapi tetap enggak ada respon," ujarnya.

Setelah melihatmu langsung kondisi, Abdul dan pihak keluarga pasrah menanti kehendak Yang Maha Kuasa dan bergegas melapor ke Polsek Ciracas.

Mereka yakin Deni dan Soni tewas keracunan miras oplosan racikan pedagang karena saat membeli tak mencampurkan apa pun.

Miras jenis Gingseng yang umumnya berwarna kuning sudah berwarna hitam legam saat dibeli Deni seharga Rp 20 ribu per bungkus plastik.

"Akhirnya seluruh instalasi alat medisnya dicabut dari almarhum, setelahnya saya pergi keluar. Enggak lama dapati kabar kalau korban sudah enggak ada," tuturnya.

Kini jajaran Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur masih mengusut kasus meninggalnya Deni dan Soni dan memburu pedagang miras.

Namun keputusan pihak keluarga yang menolak jenazah diautopsi jadi sebab penyebab kematian dan kandungan miras urung bisa dipastikan.

Dibeli Dekat Kantor Kelurahan Ciracas

Kakak sepupu Soni, Abdul Latip (41) saat ditemui di Ciracas, Jakarta Timur, Senin (10/2/2020). 
Kakak sepupu Soni, Abdul Latip (41) saat ditemui di Ciracas, Jakarta Timur, Senin (10/2/2020).  (TRIBUNJAKARTA.COM/ANNAS FURQON HAKIM)

Deni (41) dan Soni (34) tewas usai menenggak minuman keras jenis Gingseng yang diduga dioplos satu pedagang berkedok warung jamu pada Kamis (6/2/2020).

Dua warga Kecamatan Ciracas itu diduga kuat jadi korban perdagangan miras oplosan karena tewas layaknya orang keracunan.

Meski tewas di hari berbeda, keduanya mengalami sesak napas, menggigil, penglihatan buram, dan sakit luar biasa di bagian perut.

Kakak sepupu Soni, Abdul Latip (41) mengatakan saudaranya membeli miras berkemas plastik isi satu liter dengan harga Rp 20 ribu per bungkus.

"Dibeli di warung dekat kantor Kelurahan Ciracas, cuman jarak berapa meter dari kantor Kelurahan. Warungnya sih kecil, seperti gerobak begitu," kata Abdul di Ciracas, Jakarta Timur, Senin (10/2/2020).

Menurutnya kualitas Gingseng yang dijual di warung tersebut memang berbeda dengan Gingseng pada umumnya.

Bila Gingseng yang umumnya dijual di warung miras berwarna kuning, maka warna Gingseng yang diminum Doni dan Deni lebih gelap.

"Warnanya lebih hitam, seperti oli basi. Itu warnanya enggak berubah karena dioplos pas minum, memang dari pas beli sudah begitu warnanya," ujarnya.

Abdul menuturkan kios miras berkedok warung jamu tempat saudaranya membeli Gingseng sudah beroperasi cukup lama.

Dia juga mengaku heran dengan aktivitas jual beli miras yang beroperasi dekat kantor pemerintahan dan luput pengawasan.

"Di bawah gerobaknya itu banyak bungkusan plastik miras, jadi sudah siap dijual. Saya enggak tahu kenapa bisa bebas jual dekat kantor Kelurahan," tuturnya.

Pun pihak keluarga tak memiliki bukti medis Deni dan Soni tewas keracunan miras oplosan karena menolak jenazah diautopsi.

Keduanya sakit keras tak sampai 24 jam usai menenggak 3 liter miras yang dikonsumsi bertahap pada Kamis (6/2/2020) dan Jumat (7/2/2020).

"Tadinya keluarga setuju pas diminta polisi autopsi, tapi setelah tahu proses autopsi keluarga menolak dan bikin surat pernyataan," lanjut Abdul.

Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Arie Ardian Rishadi membenarkan miras yang diminum dua warga Kecamatan Ciracas dibeli dekat kantor Kelurahan.

Namun karena pihak keluarga menolak autopsi, pihaknya belum dapat memastikan apakah miras yang dikonsumsi oplosan atau bukan.

"Berdasarkan informasi yang bersangkutan membeli minuman dalam bentuk kemasan plastik dekat kantor Kelurahan Ciracas," kata Arie.

Badan mengigil hingga pengelihatan buram

Dua pemuda warga Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur tewas usai menenggak miras yang diduga dioplos satu pedagang berkedok warung jamu.

Keduanya yakni Deni (41) dan Soni (34) awalnya menenggak miras jenis Gingseng pada Kamis (6/2/2020) sekira pukul 22.00 WIB.

Mereka membeli Gingseng sebanyak dua liter yang setiap liternya dikemas dalam kantong plastik seharga Rp 20 ribu.

Kakak sepupu Soni, Abdul latip (41) mengatakan kala itu sebenarnya ada empat orang yang ikut minum miras oplosan.

"Jadi saudara saya habis pindahan, nah tiga temannya bantu pindahan. Selesai beres-beres mereka beli miras di warung, diminum bareng-bareng," kata Abdul di Ciracas, Jakarta Timur, Senin (10/2/2020).

Namun selepas minum bersama, dua teman Deni dan Soni pamit pulang dan tak banyak mengkonsumsi miras oplosan.

Lantaran hanya menenggak beberapa gelas Gingseng, mereka tak mengalami sakit dan nyawanya selamat.

Merasa tak ada yang salah dengan kondisi badannya, pada Jumat (7/2/2020) kembali membeli Gingseng di tempat yang sama.

Rumah duka Soni (34) di Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Senin (10/2/2020).
Rumah duka Soni (34) di Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Senin (10/2/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

"Beli lagi satu plastik, diminum berdua. Nah enggak sampai 24 jam habis minum, si Deni mulai merasa badannya menggigil, sesak napas, dan penglihatannya buram," ujarnya.

Deni meninggal pada Sabtu (8/2/2020) sekira pukul 02.00 WIB bersamaan dengan Soni yang mulai merasa tak enak badan.

Beberapa jam usai Soni melayat ke rumah duka, Abdul menuturkan Soni berangsur merasa sakit dan menunjukkan gejala sakit serupa Deni.

"Napasnya sesak, megap-megap begitu. Perutnya serasa dibejek-bejek dan penglihatannya buram. Diajak ngomong juga sudah enggak nyambung," tuturnya.

Abdul menyebut Soni sempat dirawat di RSUD Kecamatan Ciracas sebelum meninggal pada Senin (10/2/2020) sekira pukul 05.00 WIB.

Pihak keluarga sudah melaporkan kasus tewasnya Soni ke Unit Reskrim Polsek Ciracas dengan harapan penjual miras oplosan dibekuk.

"Harapannya yang jual miras ini ditangkap, karena yang saya tahu sebelum dua korban ini beberapa bulan lalu ada tiga korban lainnya," lanjut Abdul.

Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Arie Ardian Rishadi membenarkan adanya petaka yang menimpa keluarga Soni dan Deni.

Kini jajaran Unit Reskrim Polsek Ciracas masih mendalami kasus tewasnya Soni dan Deni yang diduga akibat terlalu banyak menenggak miras oplosan.

"Iya, mereka meninggal setelah minum miras. Kalau untuk oplosan atau enggak masih kita dalami, masih penyelidikan," kata Arie.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved