Breaking News:

Banjir Surut, Warga Cipinang Melayu Tinggalkan Posko Pengungsian

Lurah Cipinang Melayu Agus Sulaeman mengatakan warga 30 kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 103 jiwa meninggalkan posko seiring surutnya banjir.

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
ISTIMEWA
Kondisi permukiman warga Kelurahan Cipinang, Kecamatan Makasar setelah banjir surut pada Senin (17/2/2020) 

"Kalau sekarang tinggi air satu meter tapi belum merata, jadi listrik belum dipadamin. Kalau sudah rata satu meter semua baru kita hubungi PLN untuk pemadaman," tuturnya.

1.400 Warga RW 04 Cipinang Melayu Kebanjiran

Banjir yang merendam permukiman warga RW 04 Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Minggu (16/2/2020).
Banjir yang merendam permukiman warga RW 04 Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Minggu (16/2/2020). (TribunJakarta.com/Bima Putra)

Ketinggian air yang merendam permukiman warga RW 03 dan RW 04 Kelurahan Cipinang Melayu kian tinggi seiring waktu.

Bila pada pukul 17.30 WIB tinggi air berkisar 80 sentimeter, pukul 20.24 WIB ketinggian air sudah mencapai sekitar satu meter lebih.

Ketua RW 04 Kelurahan Cipinang Melayu, Irwan Kusnadi mengatakan tinggi air naik seiring debit kiriman dari Kali Cikeas tiba.

"Sekarang rumah warga yang di dekat kali sudah sampai satu meter lebih. Untuk sekarang ada sekitar 1.400 jiwa yang kebanjiran," kata Irwan di Makasar, Jakarta Timur, Minggu (16/2/2020).

Informasi tinggi muka air di Cipinang Hulu pukul 19.30 WIB yang diterima warga mencapai 170 sentimeter atau sudah siaga 2.

Namun mayoritas warga RW 04 sudah memindahkan kendaraan bermotornya dan perabot elektronik sejak pukul 19.00 WIB.

"Untuk yang lansia sudah mengungsi dari sore, mengungsi ke kantor Kelurahan Cipinang Melayu. Warga lain masih bertahan di rumah," ujarnya.

Irwan menuturkan warga bersiap mengungsi sejak sore karena trauma banjir bakal separah layaknya tanggal 1 Januari 2020 lalu.

Khususnya Warga yang bermukim dekat bantaran Kali Sunter dan proses evakuasinya sulit karena terhambat derasnya arus.

"Selama puluhan tahun saya tinggal banjir awal tahun baru kemarin paling parah. Secara tinggi air, dan naiknya juga lebih cepat," tuturnya.

Pantauan wartawan TribunJakarta.com pukul 20.30 WIB, jembatan merah yang menghubungkan warga RW 03 dan RW 04 sepenuhnya terendam.

Warga trauma

Banjir luapan Kali Sunter pada Rabu (1/1/2020) masih membekas di benak warga Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar.

Meski sudah puluhan tahun terdampak banjir luapan Kali Sunter, banjir di awal tahun 2020 itu hingga kini membuat warga cemas.

Mista (59), satu warga RW 04 Kelurahan Cipinang Melayu mengatakan kini lebih waspada menghadapi banjir karena tak ingin terjebak di rumah lagi.

"Karena waktu banjir tanggal satu kemarin saya sekeluarga terjebak di rumah. Kita enggak menyangka kalau banjir kemarin parah," kata Mista di Makasar, Jakarta Timur, Minggu (16/2/2020).

Saat banjir dengan ketinggian lebih dari empat meter awal tahun 2020 lalu, Mista dan enam anggota keluarganya terjebak di rumah.

Selama 12 jam mereka terjebak tanpa persediaan makanan dan minuman yang cukup akhirnya dievakuasi petugas gabungan.

"Banjir dari jam 2 dini hari, baru dievakuasi sore hari. Paling kasihan sama dua cucu saya yang ikut terjebak. Makannya hari ini banjir lagi takut juga," ujarnya.

Permukiman warga RW 04 Kelurahan Cipinang Melayu yang terdampak banjir luapan Kali Sunter di Makasar, Jakarta Timur, Minggu (16/2/2020).
Permukiman warga RW 04 Kelurahan Cipinang Melayu yang terdampak banjir luapan Kali Sunter di Makasar, Jakarta Timur, Minggu (16/2/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Sejak pukul 16.00 WIB saat tinggi air mencapai 80 sentimeter, Mista mulai mengambil tali tambang yang jadi modal evakuasi warga.

Tali tambang bakal dikaitkan dari satu tiang ke tiang lain dan jadikan tumpuan warga melawan derasnya luapan arus Kali Sunter.

"Kalau enggak pakai tali tambang susah untuk evakuasi. Waktu banjir tahun lalu saja petugas gabungan enggak berani masuk karena arusnya deras," tuturnya.

Pernyataan serupa dilontarkan Dana (35) yang juga terjebak saat banjir di awal tahun 2020 lalu karena terlambat mengungsi.

Terlebih seorang warga RW 04 meninggal karena terlambat mengungsi dan jasadnya baru bisa dievakuasi petugas gabungan pada sore hari.

"Biasanya kalau banjir sudah satu meter lebih langsung ada pemadaman listrik. Mudah-mudahan sih banjir hari ini enggak terlalu dalam seperti awal tahun," kata Dana.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved