Breaking News:

Banjir Jakarta

Pemprov DKI Jakarta Putus Bantuan Lansia, Nenek Korban Banjir di Jakarta Timur Kelaparan

Sri Suwarti (63) hanya memandangi timbunan lumpur dan sampah imbas banjir yang menjamah warga RW 02, Kampung Arus, Kelurahan Cawang Jakarta Timur.

Penulis: Bima Putra | Editor: Suharno
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Sri Suwarti (63) saat ditemui di rumahnya, Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (1/3/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Sri Suwarti (63) hanya bisa memandangi timbunan lumpur dan sampah imbas banjir yang menjamah warga RW 02, Kampung Arus, Kelurahan Cawang Jakarta Timur.

Selama nyaris dua bulan tanpa henti terdampak banjir luapan Kali Ciliwung, dia tak merasakan bantuan sesuap nasi bungkus pun.

Derita nenek yang tinggal di gubuk kayu itu kian lengkap karena Pemprov DKI Jakarta memutus bantuan pemenuhan kebutuhan dasar (PKD).

"Tahun 2019 dapat bantuan untuk lansia, tahun 2020 sampai sekarang belum ada. Dari bulan Januari enggak ada, biasanya ambil di Bank DKI," kata Sri di Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (1/3/2020).

Bantuan PKD lansia sebesar Rp 600 ribu dari Pemprov DKI terhenti saat banjir tanggal 1 Januari 2020 dengan ketinggian 4 meter merendam rumahnya.

Sri yang kini tinggal sendirian di sudut Gang Arus Dalam pun tak tahu alasan Pemprov DKI Jakarta memutus bantuan PKD-nya sebagai lansia.

Saat mempertanyakan alasan pemutusan bantuan ke Pemprov DKI, dia mendapat jawaban bahwa bantuan lansia hanya untuk umur 74 ke atas.

"Katanya yang dapat bantuan untuk lansia sekarang umur 74, berubah. Ada juga yang bilang dipindah ke tempat lain, katanya untuk korban bencana," ujarnya.

Jawaban tak pasti juga didapat saat bertanya kepada Ketua RT/RW yang mengaku tak tahu alasan pemutusan bantuan PKD.

Bantuan yang didapat Sri setiap bulannya hanya dari pemerintah pusat berupa 8 kilogram beras, 15 butir telur, dan 3 ekor ikan.

"Dapat Raskin (beras untuk rumah tangga miskin), telur, dan ikan. Tapi enggak cukup lah, untuk kebutuhan sehari-hari saya nyuci, gosok, di rumah orang," tuturnya.

Sri sebenarnya memiliki 3 anak yang semuanya sudah berkeluarga, dua anak perempuannya masing-masing sudah punya anak.

Hanya anak laki-lakinya saja yang belum dikaruniai buah hati, namun mereka kondisi ekonomi mereka tak jauh lebih baik dari Sri.

"Cucu sudah 6, saya enggak minta sama anak karena mereka juga susah. Baru punya anak kecil dan masih sekolah kan. Waktu banjir tanggal 1 Januari saya seharian enggak makan, engkau bohong," lanjut Sri.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved