Joko Anwar Pernah Buat Film Pakai Kamera Ponsel

Penikmat film Tanah Air, tentu tidak asing dengan nama Joko Anwar. Ia merupakan sutradara dari sejumlah film layar lebar di Indonesia.

TribunJakarta.com/Pebby Adhe Liana
Sutradara film Tanah Air Joko Anwar mengungkapkan alasan mengapa artis Tara Basro seringkali terlibat peran dalam film-film yang dikaryakannya, Rabu (4/3/2020). 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, SUDIRMAN - Penikmat film Tanah Air, tentu tidak asing dengan nama Joko Anwar.

Pria berusia 44 tahun ini merupakan sutradara dari sejumlah film layar lebar di Indonesia.

Beberapa diantaranya seperti Pengabdi Setan, Gundala, Perempuan Tanah Jahanam, juga Janji Joni.

Namun dibalik karya-karyanya itu, tak banyak yang tahu bahwa Joko ternyata pernah menggunakan kamera ponsel untuk melakukan proses syuting.

"Kalau aku syuting memang memungkinkan untuk pakai smartphone kayak di film A Copy of My Mind aku pake. Karena itu sesuatu yang mempermudah proses syuting," kata Joko, Rabu (4/3/2020).

Joko bercerita, ia menggunakan kamera ponsel bermerek Samsung Note 4 ketika menggarap film berjudul A Copy of My Mind yang dibintangi oleh aktor Chiccho Jerikho dan Tara Basro pada tahun 2014 silam.

Kala itu, ia berusaha untuk menampilkan sebuah wajah kota Jakarta yang apa adanya tanpa menggunakan kamera profesional.

Ia pun menyebut bahwa pada saat melakukan proses editing tak ada perpedaan yang signifikan antara menggunakan kamera profesional ataupun kamera ponsel.

"Kadi waktu itu aku harus masuk ke suatu daerah yang memang shootingnya harus gerilya style. Karena tidak mungkin masuk ke situ dikasih izin karena tempatnya tempat kriminal, jadi pakai smartphone galaxy note 4," ungkap Joko.

"Waktu itu kita ingin menampilkan Jakarta apa adanya, wajah jujur Jakarta. Tapi ketika disatukan dengan hasil kamera profesional kita, orang gak tau mana yang pake kamera besar dan mana yang smartphone," katanya.

Ia pun menyebutkan bahwa bagus atau tidaknya sebuah film bukan ditentukan daripada mahal atau murahnya perangkat yang digunakan.

Namun bagaimana cara kita dalam memaksimalkan kamera dengan teknis yang benar dan mempertimbangkan nilai estetika.

"Kamera termasuk teknis, estetika tergantung kita. jadi kalau ada orang mencibir bikin film kalau murah pasti jelek, salah. Banyak film mahal tapi gak laku dan gam bagus. Film yang murah pakai smartphone dan dapet award banyak juga. Jadi gak tergantung sama murah atau mahalnya sebuah produksi film untuk buat film bagus. Tapi penggabungan antara teknis dan estetika," kata Joko.

Selain Pistol, Ada 1 Benda Besar Tak Lazim Dibawa Lansia Perampok Toko Emas

Warga Jakarta Panik Hadapi Virus Corona, Pemprov DKI: Ada 2.000 Laporan Dalam Dua Hari

"Estetika yang kita punya gimana. Teknis udah capable, jadi kalau udah shooting? segala macam bisa gak bagus ya mungkin secara estetika dia nggak punya kemampuan untuk membuat sesuatu yang indah," pungkasnya.

Penulis: Pebby Ade Liana
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved