Breaking News:

Sisi Lain Metropolitan

Jadi Pemulung Setelah Matanya Tak Bisa Melihat, Tardi Tak Dipedulikan 3 Anak Kandungnya

Sambil memegang plastik hitam besar, langkah Sutardi (60) terlihat tertatih. Ia mengaku tak dipedulikan anak setelah memulung.

TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Tardi, pemulung di kawasan Jakarta Timur, Senin (9/3/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Sambil memegang plastik hitam besar, langkah Sutardi (60) terlihat tertatih.

Mata kanan yang sudah tak bisa melihat dan mata kiri sudah buram untuk melihat, membuatnya semakin sulit untuk melihat keadaan sekitar.

Dengan jarak pandang satu meter, ia menyusuri tiap jalan dari Ciracas ke Cilangkap, Jakarta Timur perdua hari sekali.

Tardi, pemulung di kawasan Jakarta Timur, Senin (9/3/2020).
Tardi, pemulung di kawasan Jakarta Timur, Senin (9/3/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA)

Bila melihat kardus dan botol bekas, Tardi, sapaannya segera memasukan barang tersebut ke dalam kantung plastik yang ia bawa.

Sebenarnya, kehidupan Tardi dulunya tak semiris sekarang.

Diceritakannya, ia sempat menjadi tukang ojek pangkalan selama puluhan tahun.

Namun, akibat binatang kecil tak sengaja masuk ke mata kanannya, berimbas pada dirinya yang kehilangan pengelihatan untuk selamanya.

"Selanjutnya saya menjalani hari-hari selama 2 tahun belakangan sebagai pemulung. Padahal dulu waktu dari istri pertama, Sarina masih ada sampai dia meninggal karena kanker rahim, saya masih ngojek. Cuma karena musibah ini aja jadi saya mau enggak mau jadi pemulung," katanya kepada TribunJakarta.com, Senin (9/3/2020).

Selain itu, sejak dirinya menjadi pemulung, Tardi merasa tiga anak dari almarhumah istri pertamanya sudah tak peduli lagi pada dirinya.

Halaman
1234
Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved